Sentra Kerajinan Lurik Di Pedan

0 292

Kawasan Pedan, Klaten, Jawa Tengah, sudah sekian lama menjadi sentra lurik. Pasang surut mewarnai perjalanannya. Banyak pula yang tumbang. Namun, lewat tangan kreatif generasi baru, lurik kembali menggeliat dan terangkat.

Riwayat tenun tradisional lurik di kota kecil Pedan, memang sudah berusia sangat panjang. Kain bermotif garis-garis itu sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Kediri. Pada tahun 1938, seorang pengusaha Pedan bernama Suhardi Hadi Sumarto menimba ilmu ke Textiel Inrichting Bandoeng (sekarang Sekolah Tinggi Teknologi Bandung). Sepulang dari Bandung, Suhardi mempraktikkan ilmu membuat tenun lurik bersama saudara-saudaranya. Mereka lantas membuat perusahaan keluarga.

Di masa kejayaan lurik, ada sekitar 500 pengusaha dengan sekitar 60 ribu orang pegawai di seluruh Kabupaten Klaten yang berpusat di Pedan. Pemasaran lurik pun sampai ke seluruh wilayah Indonesia. Lurik apa pun yang dibuat selalu laku keras. Bahkan Rachmad mengaku dirinya saat itu bisa mendapatkan untung besar sampai 120 persen.

Pada intinya, lurik itu merupakan motif kain berupa garis-garis kecil dengan 2-5 warna. Ada beberapa motif lurik yang hingga sekarang penciptanya tidak diketahui. Misalnya saja Motif Ketan Ireng, Ketan Salak, Kijing Miring, Sodo Sak Ler, Kembang Bayem, Kembang Sembukan, Rinding Putung, Dom Kecer (hujan gerimis), dan Tumbar Pecah.

Source Sentra Kerajinan Lurik Di Pedan KISAH SUKSES USAHA TURUN TEMURUN KAIN TENUN LURIK DI PEDAN, KLATEN
Comments
Loading...