Kerajinan Batik ‘Alsier’ Di Desa Wonorejo

Kerajinan Batik ‘Alsier’ Di Desa Wonorejo

Pengusaha Batik, Ari Bintarti memulai usahanya dengan modal awal Rp 500 ribu dari kantong sendiri.  Pemilik Batik Alsier, Desa Wonorejo, Rungkut, Surabaya ini  mulanya tak bisa membatik. Ibu rumah tangga itu hanya senang menggambar dan menyukai batik.

Kisahnya sebagai pengusaha berawal pada tahun 2008, saat Pemerintah Kota Surabaya memberikan pelatihan batik tulis di kantor Kecamatan Rungkut. Ari adalah satu dari 50 warga Rungkut yang ikut pelatihan itu. “Saya penasaran saja, bagaimana cara membuat batik,” ujarnya.

Lima puluh warga—kebanyakan ibu rumah tangga—dibagi dalam kelompok kecil sesuai dengan kelurahan. Setahun kemudian, setelah merasa sanggup membuat batik tulis, Ari nekat membikin usaha batik sendiri. Batik Balap namanya, akronim dari Batik Alam Pesisir. “Tapi, karena pas daftar merek kok banyak yang pakai nama ‘Balap’, saya ganti jadi Alsier,” kata Ari.

'); }());

Sayang, bisnis Ari tidak bisa langsung berlari. Dia masih mengandalkan satu pameran ke pameran yang lain untuk jualan. Tapi kesabaran itu berbuah. Alsier makin dikenal setelah ikut sebuah pameran besar di Jakarta pada 2011. “Pameran membuat produk saya tetap eksis dan bisa menggaet pelanggan baru,” kata Ari.

 

Butik yang berlokasi di kawasan Jambangan, Surabaya, itu biasa menerima pesanan seragam batik tulis. Profil pemesan yang beragam, menuntut Firstijanti, menyesuaikan kemauan dan kemampuan pengorder.

Kerajinan Batik 'Alsier' Di Desa Wonorejo
Comments (0)
Add Comment