Kain Tenun Songket Motif Lepus, Palembang

0 354

Kain Songket khas Palembang memberikan nilai tersendiri yang dapat menujukan “kebesaran” bagi orang-orang yang mengenakan dan membuatnya. Rangkaian benang yang tersusun dan teranyam rapi dengan pola simetris itu. Lestarinya kain Songket mutlak disebabkan karena adanya proses pembelajaran antar generasi. Selain itu, Songket tidak hanya selembar kain benda pakai, songket adalah simbol budaya yang telah merasuk dalam kehidupan, tradisi, sistem nilai, dan sosial masyarakatnya

Songket Palembang Motif Lepus

Lepus adalah motif songket yang anyaman dan corak benang emasnya hampir menutupi seluruh bagian dari kain songket tersebut. Hiasan emasnya menyebar rata ke seluruh permukaan kain, hiasan pada kembang tengah selalu dipenuhi dengan benang emas. Hal ini sesuai dengan pengertian Lepus, yang artinya menutupi. Umumnya kain ini hanya dikenakan pada acara-acara resmi.

Awalnya penenunan songket lepus dilakukan di tempat dalam lingkungan keraton. Proses pencelupan warna hingga penenunan dilakukan oleh satu orang yang ditugaskan oleh sultan atau pangeran untuk membuat songket. Benang dan lidi yang dijalin sebagai tahap dari perancangan kain songket menyesuaikan dengan ukuran motif yang akan dibuat. Untuk membuat Motif Nago Besak misalnya, lidi yang digunakan berjumlah 60 – 75 batang, untuk motif nago kecik sekitar 50 – 55 batang. Inilah yang menyebabkan proses pembuatan songket lepus cukup rumit, meski penenunannya lebih mudah dibanding kain songket jenis lain.

Teknik Pembuatan Tenun Songket Palembang

  • Tahap Menenun Kain Dasar
    Dalam tahap ini yang ingin dihasilkan adalah hasil tenunan yang rata dan polos. Untuk itu, langkah pertama yang dilakukan adalah benang yang sudah dikani, salah satu ujungnya direntangkan di atas meja. Sedangkan, ujung lainnya dimasukkan kedalam lubang suri (sisir). Pengisian benang ini diatur sedemikian rupa sehingga sekitar 25 buah lubang suri, setiap lubangnya dapat memuat 4 helai benang. Sedangkan, lubang-lubang yang lain, setiap lubangnya diisi dengan 2 helai benang. Selanjutnya menyajin atau mensayin benang. Setelah itu “pemasangan gun penyenyit”. Selanjutnya, dengan posisi duduk, penenun mulai menggerakkan dayan dengan menginjak salah satu pedal untuk memisahkan benang sedemikian rupa, sehingga benang yang digulung dapat dimasukkan dengan mudah, baik dari arah kiri ke kanan (melewati seluruh bidang dayan) maupun dari kanan ke kiri (secara bergantian). Benang yang posisinya melintang itu ketika dirapatkan dengan dayan yang ber-suri akan membentuk kain dasar.
  • Tahap Pembuatan Ragam Hias
    Setelah kain dasar terwujud, maka tahap berikutnya (tahap yang kedua) adalah pembuatan ragam hias. Dalam tahap ini kain dasar yang masih polos itu dihiasi dengan benang emas atau sutera dengan teknik pakan tambahan atau suplementary weft. Caranya agak rumit karena untuk memasukkannya ke dalam kain dasar harus melalui perhitungan yang teliti. Dalam hal ini bagian-bagian kain dipasangi gun kembang agar benang emas atau sutera dapat dimasukkan, sehingga terbentuk sebuah motif.

 

Source Kain Tenun Songket Motif Lepus, Palembang Kain Songket; Asal Mula, Jenis, dan Maknanya
Comments
Loading...