Kerajian Clay Di Pasuruan

0 204

Kerajian Clay Di Pasuruan

Bentuknya yang unik dan lucu, serta terlihat apik membuat sebagian orang tak percaya jika aksesori ini terbuat dari tepung. Mulai dari bros, kalung, pensil, gantungan kunci, sampai pigura home decor menjadi hasil karya bahan material berwarna putih tersebut.

Clay sendiri diartikan sebagai tanah liat yang tidak melulu harus dari tanah. Kerajinan tangan ini mulai populer di Indonesia beberapa tahun terakhir. Bahan dasarnya pun cukup sederhana, tepung, roti, lilin, bubur kertas, sampai polymer.

Hal inilah yang dilihat sebagai peluang oleh Monica Harijati warga Pasuruan, Jawa Timur. Membangun usaha dengan brand ‘Vimo’ fun clay dari hobi. Monica yang seorang arsitek ini pun menggencarkan bisnis aksesori clay sejak terjadi krisis awal 2007. Monica membuat clay ini awalnya menggunakan sisa roti tawar. Namun karena tidak tahan lama dan hanya bertahan tiga sampai enam bulan, seorang teman pun menyarankannya untuk menggunakan tepung.

“Saya membuat clay ini memakai tepung dan lem pengawet, tapi hasilnya kurang memuaskan. Adonannya menunggu keras dulu selama tiga jam. Lalu saya coba campur tepung terigu, tapioka, sama tepung beras dan lem pengawet, baru lah bisa,” bebernya.

Hasil kerajinan tangannya ini pun cukup terjangkau. Monica hanya membanderolnya sebesar Rp10.000-Rp320.000, tergantung dari tingkat kesulitan pembuatannya. Berangkat dari sana, omzet yang dihasilkannya pun bisa mencapai Rp20 juta-Rp30 juta per bulan.

“Saya menggunakan empat tenaga kerja di rumah. Pekerja harian dibayar Rp70 ribu-Rp80 ribu. Kalau yang sudah lama kerja biasanya Rp120.000,” tutur dia.

Selama dia berkreasi dan membuat bisnis dari clay tersebut, Monica pun ditawari oleh pihak Sampoerna yang mendukungnya untuk melakukan pemasaran dan pengemasan. Kerajinannya ini sudah melanglang buana ke Australia, Jepang, dan Amerika Serikat.

“Sama Sampoerna sudah dari 2010. Pesanan bisa 100 per hari, untuk souvenir saya beri harga antara Rp12 ribu-Rp15 ribu,” kata dia.

Namun demikian, brand Vimo yang berada di bawah naungannya ini sudah dipatenkan sejak 2006, tetapi prosesnya sampai sekarang belum juga bisa dimilikinya secara utuh.

“Tapi sekarang sudah proses lagi. Vimo itu dari nama Victor Monica. Kalau ekspor mereka menelan harga. Selain ke luar negeri kita kirim ke Kalimantan, Sumatera, Jakarta, Bali, Yogyakarta. Langsung ke supliernya,” pungkasnya.

Source http://ekonomi.metrotvnews.com http://ekonomi.metrotvnews.com/mikro/akWwE9qk-cerahnya-berbisnis-aksesori-clay-tepung-raup-hingga-rp30-juta-bulan
Comments
Loading...