Kerajinan Akar Pakis Di Simalungun

0 390

Kerajinan Akar Pakis Di Simalungun

Banyaknya tumbuhan tanggiang/tanaman pakis di kawasan perbukitan di Simalungun dimanfaatkan warga untuk dijadikan kerajinan tangan. Salah satunya adalah pot bunga. Dengan akarnya yang kuat dan tahan lama, tanggiang di daerah ini kini bahkan menjadi andalan perekonomian banyak warga.

Seperti di Nagori (desa) Dolokparmonangan, Kecamatan Dolokpanribuan. Di desa yang berada di jalan lintas menuju Parapat ini, para warga tampak menjajakan pot hasil ukirannya dalam berbagai bentuk. Ada bentuk batu bata, pot bunga, dan menara. Semuanay bisa difungsikan khusus untuk tanaman anggrek.

“Banyak di sini tanggiang ini tumbuh liar. Makanya penduduk sini banyak yang buat ini untuk dijual,” ujar Eldon Sinaga, salah seorang penjual pot anggrek dari tanggiang.

Eldon mengaku, dengan bisnis pot bunganya itu ia menghidupi keluarganya. Dalam sehari, Eldon bisa meraup keuntungan Rp 50.000. “Kalau udah mau hari raya, baru ramai. Bisa saya dapat sampai Rp 700 ribu per hari,” katanya.

Bisnis kerajinan tangan serupa juga menjadi sumber utama mata pencaharian Kaman Sinaga, seorang penduduk lain yang menjual pot bunga ukirannya beberapa meter dari tempat Eldon. Kaman mengaku telah melakoni bisnis tersebut selama tiga tahun. Selama tiga tahun itu ia mampu memberi nafkah istri dan dua anaknya.

Untuk membuat satu pot bunga berukuran kecil, dibutuhkan waktu sekitar satu jam. “Sehari yang kecil saya buat sampai 9. Kalau yang besar, yang bentuk menara itu sehari bisa sampai 15 saya buat,” kata Kaman.

Eldon mengatakan, untuk membuat pot bunga tersebut, hanya akar tanggiang yang telah kering yang bisa dipakai. Sementara alat yang dipakai adalah gergaji, pisau, martil, dan kapak. Sementara itu, Eldon mengatakan, bisnis tersebut kurang mendapat perhatian pemerintah setempat. Jika saja didukung, kata dia, bisnis tersebut dapat lebih dikembangkan, karena tanaman tanggiang di daerah tersebut masih sangat banyak.

“Stok pakis kita masih banyak. Cuma kami kesulitan di alat. Untuk memotongnya akan lebih mudah kalau pakai sinzo. Kalau pake kapak, lama. Saya aja cuma bisa nebang 4 pohon. Kalau pakai sinzo pasti lebih cepat dan banyak, kayak orang sebelah sana itu,” katanya.

Dukungan pemerintah setempat menjadi penting mengingat potensi ekonomi mandiri yang bisa dihasilkan dari bisnis kerajinan tangan yang telah ada sejak tahun 1980-an ini. Pot-pot anggrek ini sendiri telah terjual hingga Kota Medan. Untuk menanam anggrek dengan pot ini, cukup dengan menambahkan serbuk akar tanggiang yang dijual dengan harga Rp 10.000 per karung. “Yang kecil ini Rp 8000. Kalau yang tinggi ini Rp 35 ribu. Yang bentuk batu bata ini Rp 2500,” katanya.

Source http://medan.tribunnews.com http://medan.tribunnews.com/2014/03/09/akar-pakis-raksasa-dimanfaatkan-warga-jadi-pot-anggrek?page=2
Comments
Loading...