Kerajinan Akar Wangi Desa Semin Di Ekspor Sampai Papua

0 179

Kerajinan Akar Wangi Desa Semin Di Ekspor Sampai Papua

Kerajinan berbagai bentuk binatang yang terbuat dari bahan baku akar wangi yang sudah dianggap langka asal Kabupaten Wonogiri, ternyata masih banyak diminati masyarakat. Salah satu pengrajin akar wangi asal Desa Semin, Gunung Kidul Wonogiri, Agus mengatakan akar wangi tersebut tanaman rumput yang mempunyai aroma khas yang harus, dan zaman dahulu sebagai pengharum almari penyimpan pakaian atau barang-barang penting, seperti batik dan keris.

Menurut Agus, akar wangi tersebut dapat untuk mengusir rengat dan kecoak, sehingga pakaian yang tarsimpan di lemari tetap awet dan harum. Bahkan, akar wangi yang banyak tumbuh di Gunung Kidul Wonogiri tersebut sekarang banyak digunakan untuk aromaterapi di ruangan.

Oleh karena itu, sejumlah pengrajin asal Gunung Kidul Wonogiri dengan memanfaatkan bahan baku akar wangi untuk dibuat kerajinan berbentuk binatang seperti kuda, kura-kura, gajah, buaya, dan kipas yang kini banyak dijual di berbagai daerah.

“Kerajinan akar wangi berbentuk berbagai jenis binatang selain untuk hiasan, juga dapat sebagai aromaterapi di ruangan,” kata Agus yang membuka dasar dagangan hasil produksinya di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta.

Menurut Agus, jumlah pengrajin akar wangi di Gunung Kidul sekitar seribuan orang, dan produksinya sudah sampai berbagai daerah seperti Sulawesi, Maluku, Aceh dan Pulau Jawa.

“Saya mampu memproduksi berbagai jenis binatang yang terbuat dari bahan akar wangi mencapai 20 jenis per hari. Zaman dahulu masyarakat menggunakan akar wangi masih bentuk akar yang sudah dikeringkan sebelum secara tradisional,” katanya.

Menurut dia, hasil produk dari bahan akan wangi tersebut dijual antara Rp8.000 per buah hingga Rp30 ribu per buah, tergantung jenis dan besar kecil bentuk binatang.

“Kerajinan akar wangi ini, tidak hanya wisatawan lokal yang membeli, tetapi turis dari luar negeri banyak yang membeli hasil produknya untuk dibawa ke negaranya,” kata Agus.

Menurut Agus, dirinya menekuni membuat kerajinan bahan akar wangi khas Gunung Kidul tersebut sejak 1997 hingga sekarang. Omzet penjualan lumayan di tempat objek wisata sekitar Rp 200 ribu per hari Yatno  pengrajin lainnya, mengatakan, kebanyakan pengrajin asal Gunung Kidul memproduksi banyak akar wangi dibawa ke Sulawesi, Maluku, Aceh, sejumlah daerah di Jawa.

Source http://tabloidjubi.com http://tabloidjubi.com/16/2015/03/09/kerajinan-bahan-akar-wangi-gunung-kidul-diekspor-hingga-papua/
Comments
Loading...