Kerajinan Akar Wangi Karya Mayka Indiescraft Di Yogyakarta

0 137

Kerajinan Akar Wangi Karya Mayka Indiescraft Di Yogyakarta

Akar wangi yang biasanya digunakan sebagai wewangian di lemari pakaian ternyata bisa menjadi berbagai produk yang unik. Mulai dari gantungan kunci, pohon natal, sampai hiasan pintu berbentuk mahkota atau bintang. Atau bisa juga berupa becak mini dan mobil-mobilan. Peminatnya, mulai konsumen dalam negeri sampai mancanegara. Salah satu yang cukup cerdik menggarap peluang ini adalah Prajoko Satya Putra, pemilik Mayka Ind!escraft di Yogyakarta. Di “showroom” miliknya, Prajoko yang akrab dipanggil Koko, memajang berbagai produk akar wangi dengan rapi dan menarik. Yang menarik ternyata akar wangi buatan Koko itu telah sukses menembus pasar manca negara. Secara teratur, dia mengekspor produk akar wangi hingga 3.000 buah setiap kali kirim. “Permintaan terbanyak datang dari Prancis,” ungkap Koko. Biasanya, ia mengirim sekali seminggu. Koko telah membuat 20 model akar wangi ini. “Permintaan paling banyak berupa gantungan kunci,” katanya. Namun begitu masuk bulan Agustus, pesanan pernik-pernik hiasan pohon Natal mulai berdatangan.

Keberhasilan ayah dua anak ini menembus pasar hingga ke luar negeri, memang tak lepas dari upayanya terus menciptakan model baru. “Biar pasar tidak bosan,” ucapnya. Apa lagi kini banyak yang menjiplak produk-produk buatannya. Maklum, Koko juga memasarkan kerajinannya itu ke pasar lokal. “Saya juga menjual pernik dari akar wangi ini ke pasar Beringharjo dan Bali,” ujarnya. Ada musimannya Selain model yang inovatif, kelangsungan usaha Koko tentu juga tergantung ketersediaan bahan bakunya. Koko mendapatkan bahan baku akar wangi dari sekitar Yogyakarta.

Sayangnya, bahan baku ini belakangan ini susah dicari. Apalagi kalau lagi musim hujan. Tingginya curahan air malah menghambat tumbuhnya akar wangi. Karena minimnya bahan baku, “Saat musim hujan, saya biasanya hanya menjual di Yogyakarta,” ucap Koko. Permintaan dari pasar dalam negeri banyak mengalir saat musim pernikahan. Pernak pernik dari akar wangi memang pas untuk suvenir, apa lagi harganya murah meriah. Gantungan kunci misalnya, hanya Rp 800 – Rp 900 per buah. Namun harga ini naik sedikit kalau pemesannya dari luar negeri.

“Kalau untuk ekspor, saya jual seharga Rp 1.000 per buah,” jelas Koko. Maklum, kualitas produk juga beda. Biasanya, untuk keperluan ekspor, Koko mengerjakan jauh lebih rapi ketimbang untuk pasar lokal. Koko bilang, pembeli luar negeri memang lebih sensitif soal kerapian produk ini. Saat ini Koko memperkerjakan sepuluh karyawan. Dengan tenaga sebanyak itu, Koko, mampu memproduksi 3.000 hingga 5.000 buah gantungan kunci setiap minggu. Cara pembuatan kerajinan dari akar wangi sebenarnya cukup mudah, apa lagi akar wangi memang mudah dibentuk.

Dalam pembuatan kerajinan ini, yang pertama dilakukan adalah membuat pola dasar. Misalnya, untuk membuat gantungan model anjing, terlebih dulu harus dibuat bagian badan. Baru kemudian membuat bentuk tubuh lain seperti, telinga, kepala atau kaki. Untuk mengaitkan agar bagian tubuh dan badan anjing menyatu, Koko menggunakan benang jahit dengan warna yang sama dengan akar wangi. Lantas berapa modal untuk memulai usaha ini? Besarnya tentu tergantung skala dan lokasi usaha. Namun sebagai gambaran, waktu Koko memulai usahanya ini tiga tahun silam dia hanya bermodal Rp 50.000.

“Uang itu saya buat beli akar wangi, benang, dan pernik lainnya,” jelas Koko. Produksi perdananya berupa pesanan sebanyak 500 pernik. Dari hasil produksi perdana itu, Koko langsung balik modal. Bahkan, masih ada kelebihan untung untuk pembelian bahan baku produksi berikutnya. Sekarang, Koko meraup omzet rata-rata Rp 3,5 juta seminggu. Omzetnya bisa melonjak saat ada pesanan banyak. “Menjelang lebaran kemarin, saya bisa mendapat sampai 20 order per bulan. Rata-rata nilai per pesanan sebesar Rp 700.000,” ucap dia.

Source https://sains.kompas.com https://sains.kompas.com/read/2008/04/14/00472780/semerbak.untung.dari.kerajinan.akar.wangi
Comments
Loading...