Kerajinan Aksesoris Di Solo

0 303

Kerajinan Aksesoris Di Solo

Berangkat sebagai salah satu utusan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Dinkop UKM) Surakarta, pria yang akrab disapa Angga ini tak menyangka, cincin berbahan baku kayu sonokeling dengan bandul bergambar perempuan berambut ular terpilih sebagai pemenang di ajang pameran kerajinan terbesar di Indonesia tersebut.

“Cincin Medusa yang saya bandrol dengan harga Rp 300 ribu ternyata jadi pemenang. Padahal tidak saya daftarkan. Namun kata juri yang sempat turun ke stand, produk saya masuk kriteria dibuat secara manual, recyle, menghindari plastik, kegunaan, dan harga ekonomis,” kaget Angga saat mengetahui mata cincin bergambar perempuan berwajah ular dari kisah mitologi Yunani tersebut jadi salah satu jawara.

Pemuda lulusan jurusan Nutrisi dan Teknologi Pakan Institut Pertanian Bogor ini menggeluti kerajinan kreatif bermula saat mendirikan Oemah Gondang Art bersama kedua temannya pada pertengahan 2016 lalu.

Ketika itu mereka hendak mengikuti pameran Nepal Wood International Expo di negara yang terletak di kawasan Asia Selatan tersebut. Kemudian tercetuslah memanfaatkan limbah kayu sisa hasil produksi untuk disulap menjadi berbagai aksesoris seperti tusuk konde, cincin, maupun kalung.

“Enggak ada ilmunya (otodidak). Awalnya senang menggambar. Ketika lihat gambar ingin punya obyek yang bisa saya sentuh dari berbagi sisi. Ya mirip patung, tapi versi miniatur. Kan enggak harus semua patung jadi barang pajangan, tapi bisa dibawa kemana-mana. Biar fashinonable dan nyleneh,” ujar pria berambut ikal yang sehari-hari menjadi manajer band Merah Bercerita yang digawangi putra penyair dan aktivis 98 Wiji Thukul, Fajar Merah ini.

Sebelum memutuskan menggunakan bahan baku kayu rose wood, ash wood, walnut, dan johar, Angga memiliki cara unik dalam proses kreatifnya. Setiap karya yang sudah jadi, putra ke dua dari tiga bersaudara pasangan suami istri FC Subagyo dan Hartini ini akan selalu membantingnya. Padahal, proses pembuatan sebuah kalung memakan waktu tiga hingga empat jam, sedangkan cincin sekitar lima jam.

“Sebelumnnya memang sudah meneliti kayu apa saja yang bisa diolah, apa yang tahan banting. Jadi ketika sudah jadi pasti saya banting, minimal jatuh. Patah apa enggak. Meski saat ada yang patah saya harus mengulanginya dengan bentuk yang tidak bisa sama,” ungkapnya, yang memiliki konsep satu desain satu produk dengan inspirasi barang peninggalan harta karun.

Bagi yang penasaran dengan aksesoris harta karun ala Oemah Gondang Art bisa mendatangi galerinya di Jl. Sidoluhur No 29 Kampung Setono RT 02 RW 02 Kelurahan/Kecamatan Laweyan, Surakarta. Untuk aksesoris kalung dibanderol kisaran Rp 40 ribu – Rp 350 ribu. Sedangkan cincin Rp 50 ribu – Rp 300 ribu.

“Di Inacraft kemarin omzetnya sedikit, sekitar Rp 5 juta. Tapi begitu pulang, dapat pesanan bikin suvenir kalung dengan bentuk orang utan dan penyu dari BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Kalimantan. Selain itu ada permintaan dari Austria untuk mengisi galeri bersama orang AS, Rusia, dan Jepang,” pungkas Angga yang memilih disebut pelaku industri kreatif ketimbang UKM.

Source https://jateng.merdeka.com https://jateng.merdeka.com/ukm/jadi-jawara-inacraft-2017-karya-pria-solo-ini-dilirik-as-sampai-rusia-1705278.html
Comments
Loading...