Kerajinan Alat Blonk Di Solo

0 151

Kerajinan Alat Blonk Di Solo

Seorang perajin ekonomi kreatif asal Purwosari Solo Jawa Tengah telah memproduksi alat pertanian ‘Blonk’ dengan memanfaatkan sampah organik yang menghasilkan pupuk kompos.

“Alat blonk kompos tersebut sudah dipatenkan untuk memanfaatkan sampah rumah tangga organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, dan lainnya untuk dibuat pupuk cair maupun padat,” kata Denok Marty Astuti, seorang perajin alat blonk kompos, warga RT 02 RW 08 Purwosari Laweyan Solo.

Denok Marty mengatakan pembuatan alat blonk tersebut dengan menggunakan tong plastik bisa ukuran lima liter atau 10 liter tergantung permintaan, kemudian pasang saringan dari plastik di tengahnya untuk menampung sampah makanan. Tong itu, dibuat lubang dan dipasang selang di bawahnya untuk hasil produksi kompos cair.

“Pembuatan alat blonk ini, sangat sederhana. Namun, alat ini sudah dipatenkan dan dapat dimanfaatkan ibu-ibu rumah tangga untuk memanfaatkan sampah organik untuk membuat pupuk kompos yang berguna untuk tanaman,” kata Denok.

Menurutnya, alat blonk kompos tersebut dijual bervariasi yang mini sekitar Rp 120 ribu dan yang paling besar bisa mencapai Rp 600 ribu. Alat ini, cukup laris dan baru dikenalkan ke masyarakat melalui pameran-pameran.

Dia mengatakan cara membuat pupuk kompos sangat mudah berawal dari sampah sisa-sisa makanan dimasukan ke dalam alat blonk dan kemudian diberikan cairan bakteri pengurai atau sering disebut ‘EM’ tiga hingga empat sendok yang dicampur dengan air satu setengah liter dengan cara disemprotkan.

“Sampah sisa makanan itu kemudian ditutup didiamkan lima hingga enam hari kemudian akan menjadi kompos cair yang keluar dari selang plastik rata-rata 15 liter per bulan. Sisa sampah makanan juga menghasilkan kompos padat,” katanya.

Produksi pupuk kompos cair tersebut dapat dijual sebagai lahan bisnis rumah tangga rata-rata sebesar Rp 7.000 per liter. Dia mengatakan pupuk organik cair merupakan pupuk kompos yang dibuat dengan cara pengomposan basah. Pupuk kompos ini dibuat karena lebih mudah diserap oleh tanaman. Dari beberapa praktek, pupuk organik cair lebih efektif diberikan pada daun dibanding pada akar.

“Penyemprotan pupuk organik cair pada daun harus menggunakan takaran atau dosis yang tepat. Pemberian dosis yang berlebihan akan menyebabkan kelayuan daun dengan cepat,” katanya.

Dia mengatakan dengan memproduksi alat blonk kompos tersebut pihaknya kini telah melakukan kerja sama dengan Dinas Pasar Pemerintah Kota Surakarta untuk memberikan pelatihan kepada petugas-petugas pasar tradisional di Kota Solo.

Source http://tabloidjubi.com http://tabloidjubi.com/16/2015/10/27/kerajinan-alat-blonk-hasilkan-pupuk-kompos/
Comments
Loading...