Kerajinan Alat Dapur Dari Kayu Di Kota Batu

0 265

Kerajinan Alat Dapur Dari Kayu Di Kota Batu

Siyono warga di Dusun Rejoso, RT 01, RW 09, Desa Junrejo, Kota Batu, bersama istrinya Nur Sholihah mendirikan bengkel kerajinan kayu pembuat alat dapur.

Maklum, rumah yang mereka tinggali tersebut sekaligus sebagai tempat memproduksi beragam jenis perlengkapan alat dapur yang terbuat dari bahan kayu. Untuk tempat proses pengerjaannya, mereka lakukan di samping dan belakang rumah tersebut.

Ratusan potong kayu sisa (gergaji) dengan lebar rata-rata 10×20 cm tampak disusun rapi di depan rumah tersebut untuk dijemur. Ya, hal itulah yang dilakukan pasutri ini agar kayu yang digunakan untuk membuat kerajinan tangan menjadi kering.

Berbeda dengan perajin kayu lainnya yang sudah menggunakan oven untuk mengeringkan bahan baku untuk membuat kerajinan. Pasutri ini malah memilih menggunakan cara tradisional, yakni memakai sinar matahari.

Nur menyatakan, usaha pembuatan kerajinan alat dapur dari kayu tersebut sudah dirintis bersama suaminya sejak 1993 lalu atau 24 tahun silam. ”Dulu belajar dari mertua saya, Pak Sujak (ayah Siyono). Beliau dulu juga bikin, tapi jumlahnya tidak banyak. Bapak mertua hanya membuat alat dapur kalau ada kayu jati saja,” jelas perempuan tersebut.

Siyono juga mengaku jika para tetangganya juga banyak yang bekerja sebagai perajin alat dapur berbahan kayu. Bahkan, aktivitas tersebut bisa ditemui hampir di setiap rumah yang ada di Dusun Rejoso, RT 01, RW 09, Desa Junrejo, Kota Batu. Karena itu, kawasan tersebut terkenal sebagai kampung produsen alat dapur dari kayu.

Namun, untuk usaha yang dikelola Nur dan suaminya itu tidak serta-merta sukses seperti saat ini. ”Awal membuka usaha ini belum punya pelanggan. Nah, baru punya pelanggan sejak tiga tahun kemudian atau pada 1996. Dulu suami saya hampir setiap hari pulang pergi Batu–Surabaya untuk memperkenalkan produk buatannya,” kata Nur.

Dalam satu hari, mereka bisa memproduksi hingga 600 item alat dapur. Seperti centong nasi, spatula, penggiling kue, talenan, cobek, ulek, dan beberapa item lainnya. Selama enam hari (kecuali hari Minggu), mereka bisa memproduksi hingga 15 ribu item dalam satu bulan.

Khusus untuk ke Malaysia, Nur selalu mengirim secara rutin dalam jumlah yang lumayan banyak setiap bulan. ”Kalau ke Malaysia rutin setiap bulan pesannya. Tapi, yang dipesan hanya item cobek dan ulek. Yaitu 2.000 cobek dan 5.000 ulek,” jelas perempuan yang ramah ini.

Dari hasil penjualan dalam satu bulan, mereka rata-rata bisa mengumpulkan pendapatan bersih antara Rp 45 juta–Rp 50 juta. Meski kelihatannya ringan, pekerjaan yang ditekuni oleh pasangan suami-istri tersebut bukan tanpa rintangan.

Kesulitan terbesar yang sering kali menjadi kendala usaha mereka yaitu saat musim hujan tiba. Tanpa adanya sinar matahari, kayu-kayu yang mereka gunakan sebagai bahan baku pun tidak bisa kering secara sempurna. Jika di musim kemarau, kayu tersebut bisa kering dalam waktu sehari.

Source http://www.radarmalang.id http://www.radarmalang.id/pasutri-siyono-nur-sholihah-pelopor-pembuat-alat-dapur-dari-kayu-dari-kota-batu/
Comments
Loading...