Kerajinan Alat Kesenian Di Malang

0 310

Kerajinan Alat Kesenian Di Malang

Puluhan peralatan kesenian, mulai dari kepala bantengan, kepala macan, leang-leong (naga), dan barongsai hampir memenuhi seluruh sudut rumah Yudi Irawanto yang terletak di Desa Sutojayan, Kecamatan Pakisaji. Di kediaman itulah Yudi, sapaan akrabnya, berkreasi. ”Sejak usia 15 tahun saya sudah mulai tertarik membuat kerajinan,” terangnya membuka obrolan.

Meski sepintas tampak sederhana, namun proses pembuatan alat-alat kesenian itu sebenarnya cukup rumit. Untuk membuat kepala macan misalnya, kerangka dari bahan kawat harus dibuat terlebih dahulu. ”Ada lima ukuran kawat, mulai dari yang paling kecil dan empat ukuran di atasnya,” terang bapak dua anak ini. Kerangka yang sudah jadi kemudian dibalut dengan kertas semen. Lem dengan daya rekat tinggi digunakan untuk menempelkan kertas tersebut.

Untuk menghasilkan karya yang maksimal, pria kelahiran 5 Maret 1980 itu menambahkan kain jenis beludru yang dibalutkan di bagian luar kepala macan. Pada bagian dalam dipasang spon agar pemakainya merasa nyaman.

Harga yang dibanderolnya masih terjangkau. Satu set kostum macan dibanderol dengan harga Rp 500 ribu. Tambahan pemasukan pun bisa dia dapatkan dari keterampilannya itu. ”Karena tidak setiap waktu ada pesanan, Mas,” tambahnya.

Usaha membuat alat-alat kesenian memang merupakan pekerjaan sampingan Yudi. Pekerjaan utamanya sebagai pekerja bangunan. Karena itulah, pesanan yang datang selalu disesuaikan dengan jadwal pekerjaannya.

Lantas, dari mana Yudi mendapatkan keterampilan membuat alat-alat kesenian, secara singkat dia menjelaskan kalau keterampilannya itu dia pelajari secara otodidak. Tak lepas pula pengaruh dari sang ayah, Raiman, diakuinya cukup dominan.

Sejak kecil, Yudi memang kerap melihat ayahnya membuat kerajinan. Merasa tertarik, dia pun mencoba mempelajarinya. Ditambah dengan daya imajinasi tinggi, dia pun memberanikan diri untuk menghasilkan karya. Hasilnya tidak terlalu buruk, karena dari keterampilan itu dia mampu menambah pendapatan untuk menghidupi kedua anaknya.

Di sisi lain, dia juga cukup menikmati pekerjaan sampingannya itu. Sebab, sejak awal kecintaannya terhadap budaya lokal memang cukup tinggi. Hal itu kemudian diwujudkan dengan memproduksi alat-alat kesenian. Tujuannya, dia ingin agar generasi muda mengenal budaya sejak awal. Kecintaannya itu juga yang membuatnya tidak membanderol karyanya dengan harga tinggi. Bila pemesan tidak mempunyai banyak uang, Yudi bersedia dibayar dengan sukarela.

Source http://www.radarmalang.id/ http://www.radarmalang.id/warisi-keterampilan-dari-sang-ayah-banderol-dengan-harga-sukarela/
Comments
Loading...