Kerajinan Alat Musik Akustik Di Purwokerto

Cuk (atas) dan Cak (bawah) bambu LPSN
0 208

Kerajinan Alat Musik Akustik Di Purwokerto

Bongkar Rongsokan Buatan Jerman untuk Membuat Biola Impian Gara-gara tidak puas dengan biola yang dibelinya, Sugeng Riyanto berkeinginan untuk membuat biola sendiri. Bahkan kini Sugeng tidak lagi membuat biola untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang lain. Ditemui di workshopnya yang ada di Kelurahan Bantarsoka, Sugeng menuturkan lebih dari 20 tahun sudah menggeluti usaha pembuatan alat musik biola.

Tak hanya biola, dia juga membuat gitar, ukulele, cello. “Yang jelas alat musik akustik bukan elektrik,” jelasnya. Diceritakan, usahanya berawal pada tahun 1997. Saat itu, kata Sugeng, dia membeli biola seharga Rp 25 ribu. Namun setelah dimainkan, dia tidak puas dengan kualitas suaranya. Berulangkali dia membeli biola hingga jumlahnya tak terhitung, tapi tetap tidak menemukan yang cocok dengan karakternya. Hingga kemudian dia membeli rongsokan biola buatan Jerman. “Dari rongsokan itu saya bedah. Dilihat kontur dan bentuknya.

Dari konstruksinya saya tiru dan jadilah biola yang saya memang impikan,” terangnya. Ilmu membuat biola didapat Sugeng secara otodidat. Dia melihat buku-buku alat musik dan juga berguru pada seniornya. Perlahan biola hasil produksinya mulai dikenal, hingga kemudian memproduksi alat-alat musik keroncong lainnya. Biola pertamanya dijual seharga Rp 75 ribu. Namun kini biola pertama yang dibuat Sugeng sudah berada ditangannya kembali. Sebab, Sugeng memang terkadang membeli biola yang sudah lama dibuatnya yang sudah dibeli orang lain.

“Biola pertama saya ternyata ada di tangan orang Jakarta,” katanya. Dalam perjalanan usahanya, tak jarang dia memberikan biolanya secara cuma-cuma. Biola gratis diberikan pada orang yang memerlukan alat musik tapi tidak memiliki uang untuk menebusnya. “Beberapa dikasihkan kepada orang yang tidak mampu tapi sangat membutuhkan. Itu sebagai bentuk kepedulian saya terhadap musik, jadi tidak hanya berorientasi pada uang saja,” tutur pria yang juga menerima les biola ini. Menurutnya, sebuah alat musik hasil kreasi tangan tidak bisa diukur dengan rupiah.

Terkadang, harga sebuah alat musik handmade jauh lebih tinggi dari biaya produksinya. Semuanya kembali pada selera calon pemilik. Pria yang baru saja dikarunia anak ini mengatakan, satu set alat musik keroncong biasanya dibanderol dengan harga Rp 11 juta. Harganya bisa berubah tergantung dengan spesifikasi yang diinginkan pemesan yang datang dari berbagai kota di Pulau Jawa. “Biasanya untuk membuat satu set alat musik keroncong membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, itu kalau dikerjakan secara terus menerus karena semuanya dikerjakan secara tradisional tidak menggunakan mesin.

Selain itu, membuat juga tidak boleh terburu buru,” ujarnya. Dia menuturkan, usaha yang menjadi penghidupannya saat ini sedang mengalami masa sulit. Penguatan nilai tukar dollar terhadap rupiah, membuat jumlah pemesan alat musiknya berkurang drastis.    Untuk menjaga agar dapur tetap ngebul, dia berinovasi dengan membuat berbagai macam kerajinan tangan. Bahan dasarnya sama dengan pembuatan alat musik yakni kayu. “Dengan peralatan dan bahan yang sama serta keahlian yang saya miliki dengan pembuatan alat musik, saya mencoba berkreasi,” ujar dia. Sugeng kini mencoba peruntungan dengan membuat tempat keris dan meja bonsai. “Sisa-sisa bahan pembuatan alat musik bisa dimanfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan tangan. Saya berpikir dalam keadaan yang sulit ini memanfaatkan barang yang ada untuk menghasilkan nilai ekonomis yang tinggi,” tandasnya.

Source http://radarbanyumas.co.id http://radarbanyumas.co.id/mengenal-sugeng-riyanto-perajin-alat-musik-akustik/
Comments
Loading...