Kerajinan Alat Musik Di Desa Oebelo

0 189

Kerajinan Alat Musik Di Desa Oebelo

Terik matahari di atas Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang membuat suhu terasa mencapai 39 derajat celsius bersama Tim Press Tour Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan melakukan perjalanan ke Atambua, Nusa Tenggara Timur.

Dalam perjalanan menuju Atambua, rombongan press tour menyempatkan diri untuk singgah di sebuah gubuk tua yang kurang lebih berjarak 20 menit dari Bandar Udara El Tari Kupang. Sebuah papan nama bertuliskan Pengrajin Sasando melekat di dinding depan gubuk itu.

Dedaunan kelapa dan rekatan bambu yang dibelah menjadi atap dan dinding rumah. Sebagian dinding terlihat terbangun dari beton dan papan. Berbagai jenis Sasando dan miniaturnya serta berbagai perlengkapan terkait dalam pentas Sasando seperti kain tenun dan topi khas pemain Sasando bernama Tiilanga, berbaris rapi di dua ruangan produksi.

Adalah Jermias August Paah seorang seniman senior yang telah menghibur dunia dengan petikan khas Sasandonya. Jermias telah lama hidup bersama istri dan anak-anaknya di rumah itu sambil memproduksi Sasando dan miniatur dengan berbagai ukuran.

Ketika diwawancarai, pria 75 tahun itu mengungkapkan dirinya membutuhkan kurang lebih biaya sebesar Rp500 ribu untuk memproduksi sebuah Sasando. Alat seni tradisional asli Rote, NTT itu dijual dengan harga berbeda.

“Kalau yang elektrik, itu harganya Rp2,5 juta. Kalau yang biasa harganya Rp1,5 juta. Kalau hanya miniatur Sasando, harganya antara Rp100 – 200 ribu,” tutur Jermias, Kupang.

Sasando merupakan sebuah alat musik yang dimainkan dengan cara dipetik seperti halnya alat musik petik lainnya. Badan sasando yang mengelilingi senar setengah lingkaran terbuat dari daun Lontar. Sedangkan senar yang digunakan adalah senar yang sama yang biasa digunakan pada alat musik gitar.

Yang menjadi tiang penyangga alat musik itu, adalah sebuah bambu, tempat senar dibariskan. Pemain Sasando selalu memainkan alat musik itu dengan busana tenun dan dilengkapi dengan Tiilanga, sebuah topi yang menjadi aksesoris pemetik Sasando.

“Tiilanga juga terbuat dari daun lontar. Di atasnya itu ada sembilan tingkatan. Itu melambangkan jumlah strata dahulu,” terangnya.

Jermias sendiri telah beberapa kali tampil di kancah musik nasional maupun internasional untuk pempertontonkan Sasando. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pernah menganugerahkan pengghargaan gelar maestro alat seni tradisi kepadanya.

Dia mengaku, keputusannya untuk menjadi perajin Sasando telah membawa keuntungan tersendiri bagi visinya terkait alat itu. Selama ini, dia mencatat, peminat Sasando telah merembes hingga dunia internasional. Dalam negeri sendiri, dia mengungkapkan, para turis domestik dari Jakarta dan Bandung sering berkunjung untuk membeli dan sekaligus belajar memainkan Sasando dari Jermias.

“Internasional itu ada Denmark, Australi, Amerika Serikat, Inggris dan beberapa lainnya. Ada juga mahasiswa dari Jakarta dan Bandung yang sering. Biasanya hanya ingin beli tapi karena penasaran jadinya ingin belajar,” ucap sang maestro.

Omzet per bulan yang mampu dicapai Jermias dan keluarga melalui usaha pengrajinan Sasando sebesar Rp5-10 juta. Jenis Sasando termahal yang dijual di rumahnya itu adalah jenis Sasando dengan 56 snar. Selama ini, dirinya telah memproduksi Sasando dengan 24, 25, 28, 29, 32, dan 56 senar.

“Kalau yang termahal itu yang 56 senar. Karena tidak ada bambu sebesar itu di Kupang kita pakai pipa. Harganya itu Rp5,6 juta,” imbuhnya.

Pria yang sejak 1971 berkomitmen untuk melestarikan alat musik tradisional itu mengatakan, jumlah pengrajin Sasando sebenarnya cukup banyak di beberapa lokasi di NTT. Namun seiring waktu, jumlah pengrajin Sasando semakin berkurang. “Masih ada pengrajinnya tapi jumlahnya agak berkurang,” sebutnya.

Jeremias mengaku kerap kewalahan dalam menerima pesanan sasando dari berbagai pihak, contohnya perusahaan, pribadi. “Kalau lagi ramai bisa ratusan sasando terjual yang ukuran kecil sampai sedang. Jadi omzet nggak bisa dipastikan,” tandas Jeremias

Source https://economy.okezone.com/read/2014/05/22/455/988791/omzet-pembuat-alat-musik-tradisional-ntt-rp10-juta-bulan https://economy.okezone.com/read/2014/05/22/455/988791/omzet-pembuat-alat-musik-tradisional-ntt-rp10-juta-bulan
Comments
Loading...