Kerajinan Alat Musik Gambus Di Bangka Tengah

0 234

Kerajinan Alat Musik Gambus Di Bangka Tengah

Seni musik gambus secara perlahan mulai terkikis perkembangan zaman. Kusyadi AB akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai karyawan swasta. Ia kemudian menekuni profesi sebagai pembuat alat musik sekaligus pemain gambus. “Seni musik gambus kini hanya dimainkan pada acara tertentu saja karena kalah pamor dengan musik modern,” kata Kusyadi saat berbincang dengan Kompas.com, di bengkel pembuatan alat musik gambus miliknya, di Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kusyadi adalah salah satu perajin dan seniman musik gambus yang terus bertahan hingga saat ini. Bapak tiga anak ini mewarisi keahlian membuat peralatan serta bermain musik gambus dari kedua orang tuanya. Kecintaan pada musik gambus pulalah yang membuat Kusyadi memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai karyawan swasta. Ia kemudian memilih untuk fokus sebagai pengrajin sekaligus pemain alat musik gambus.

Bagi Kusyadi, bermain musik gambus sudah menjadi panggilan jiwa. Tidak sekadar memainkan alat, Kusyadi juga mahir melantunkan berbagai nada. Peralatan Sederhana Peralatan musik gambus dibuat dari bahan kayu pilihan. Balok-balok kayu yang telah dipotong kemudian dibentuk menggunakan pola, sesuai ukuran alat yang akan dibuat. Dibutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk membuat satu gitar gambus. Semua proses dilakukan secara manual menggunakan beberapa peralatan sederhana seperti kapak, gergaji dan pahat.

“Bahan baku kayu yang digunakan tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua,” ujar Kusyadi.  Salah satu yang menjadi ciri khas dari gitar gambus melayu buatannya adalah dipasangnya ukiran kepala rusa pada ujung tangkai gitar. Alat musik gambus ini pun telah dilengkapi fitur-fitur stereo yang bisa terkoneksi dengan alat pengeras suara. Hasil karya Kusyadi kini telah merambah ke berbagai daerah di Indonesia. Selain gitar gambus, Kusyadi juga membuat gendang dan rebana.

Harga untuk setiap alat musik bervariasi, berkisar Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Bengkel seluas 4 x 4 meter yang menjadi tempat Kusyadi bekerja, kerap dikunjungi akademisi dari berbagai perguruan tinggi yang hendak melakukan penelitian. Kusyadi pun terbuka berbagai ilmu. Di sela kesibukan membuat alat musik, Ia selalu menyempatkan diri untuk berdikusi. Seperti yang ia lakukan dengan para anggota sanggar yang kebetulan datang berkunjung. Kusyadi berharap pemerintah ikut serta menjaga kelestarian seni tradisi musik gambus sebagai salah satu khasanah budaya yang bisa dipelajari oleh setiap generasi muda.

Source https://travel.kompas.com https://travel.kompas.com/read/2016/10/23/142533627/kusyadi.perajin.sekaligus.penjaga.tradisi.musik.gambus
Comments
Loading...