Kerajinan Alat Musik Khas Di Banjar

0 139

Kerajinan Alat Musik Khas Di Banjar

Suara pahatan terdengar begitu saya tiba di depan rumahnya. Di tangan pria berusia 38 tahun itu ada   pahat dan pali. Muhammad  Husni sedang menyulap sepotong kayu  dari pohon nangka  menjadi sebuah alat musik.

Kami duduk santai di pelatar rumahnya.  Tempat berjejer beberapa buah Panting yang sudah separuh jalan dikerjakan.

Menikmati kopi hitam, Husni yang selalu mengenakan tanjak dari kain hitam ini  punya cerita tentang ikat kepala itu. “Kalau tak memakai (ikat kepala) saat membuat Panting, saya sering mengalami sakit kepala,” ucapnya.

Dia biasa membuat panting dari kayu nangka.   Kalau kayu lain, hasilnya kurang bagus. Batang-batang dari pohon nangka yang tepat biasa dikumpulkannya dari wilayah Kabupaten Banjar dan Tanah Laut.

“Ya kesulitan membuat Panting ini adalah bahan bakunya,” ucapnya yang mengatakan sekarang pohon nangka sulit ditemukan di Banjarmasin. “Saya perlu waktu membeli ke daerah. Sebulan bisa dapat penghasilan Rp7 hingga Rp8 juta, tapi uang itu saya putar lagi untuk modal beli bahan baku,” ujarnya.

Batang-batang pohon itu memenuhi halaman rumahnya tempat biasa dia bekerja.  Di tengah rumah banyak dipenuhi alat-alat musik yang sudah selesai, seperti babun, tiang gong dan panting.

Sebelum menjadi perajin alat musik, Husni bekerja serabutan. Dari menjadi buruh bangunan, penarik becak, supir angkutan barang hingga penjual buah dan pengamen Jalanan. Ia, juga memiliki grup Panting Kambang Pandahan, yang menerima order acara perkawinan dan hajatan.

Tepat tahun 2010, dia berpindah rumah dari kampung Pengambangan, menuju Sungai Lulut Jalan Martapura Lama di Kompleks Citra Graha Blok G no 4 Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. Di sana dia benar-benar fokus belajar membuat panting, bermodalkan beberapa potongan batang pohon nangka yang didapatkan ditempat tinggal sebelumnya.

“Ibu saya sempat meragukan saya. Dia meminta saya untuk mencari kerjaan layak untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dan meminta untuk berdagang saja. Alhamdulillah, berkat saya minta doakan dengan Ibu, hidup saya cukup saja. Dari hasil pembuat Panting bisa menyekolahkan anak-anak dan mempunyai rumah. Ya jauhlah dengan 8 tahun lalu kondisinya,” ungkapnya.

Keteguhan Husni  hanya satu. Ia ingin melestarikan musik Banjar, yang hampir pupus ditelan zaman dan kecanggihan teknologi. Ketekunannya itu membuahkan beberapa apresiasi. Beberapa penghargaan dan sertifikat didapatkannya dari Pemerintah Provinsi dan Kota serta Kesultanan Banjar. Dia, bukan hanya ahli membuat panting dan memainkan, tetapi lihai juga memainkan alat musik Banjar lainnya.

“Sebenarnya tak ada bakat sama sekali dengan kesenian apalagi membikin Panting ini. Seni itu muncul begitu saja ketika saya mulai menggemari memainkan musik Panting,” ujarnya.

Dari semua karyanya, dia paling menyenangi  panting berkepala Naga. Saat saya tiba, dia sedang membuat
itu. hebatnya, dia bisa mengerjakan satu panting itu hanya dalam tiga hari.

Husni mengaku dia sangat terinspirasi dari  seorang perajin Panting asli kampung Pengambangan yang sudah tutup usia. Namanya  Angah Ali. “ Saya ingat katanya,aku sudah tuha, dari pekerjaan seperti ini aku hidup saja dan bisa membeli beberapa bidang tanah. Ikam lanjutkan,” tutup Husni yang mengatakan Angah Ali  juga  memberikan sebuah Panting peninggalan kepadanya

Source http://kalsel.prokal.co/read/news/13984-muhammad-husni-mantan-pengamen-yang-kini-jadi-seniman-musik-banjar http://kalsel.prokal.co/read/news/13984-muhammad-husni-mantan-pengamen-yang-kini-jadi-seniman-musik-banjar
Comments
Loading...