Kerajinan Alat Panahan Di Salatiga

0 274

Kerajinan Alat Panahan Di Salatiga

Bagi sebagian warga Salatiga, keluarga pasangan Moch Tarom-Ny Surati, warga Kampung Ringinawe RT 11 RW 1, Kelurahan Ledok, Argomulyo, Kota Salatiga, dikenal sebagai perajin peralatan olahraga panahan. Mulai dari busur hingga anak panahnya, merekalah yang membuatnya. Anehnya, yang menurunkan keterampilan tersebut bukannya Moch Tarom dan Surati, namun salah seorang anaknya bernama Budi Sutarno. Hal itu bermula ketika Budi mengikuti seorang pamannya bernama Sumarno di Kota Sala.
Saat itu, Sumarno dikenal sebagai pelatih dan pembuat panah. Dari situlah Budi hampir setiap hari menyaksikan dan membantu pamannya membuat peralatan panah mulai anak panah (gandar) hingga busur (gendewo).
“Selama mengikuti Om, saya juga diajak melatih atlet panahan dari daerah-daerah di wilayah Yogyakarta. Dengan segala pengetahuan yang saya peroleh itulah kemudian saya terapkan di Salatiga,” aku Budi ketika ditemui di rumahnya.
Selama pulang ke Salatiga, selain membuat panah, dia juga melatih beberapa remaja yang menyenangi olahraga panahan. Lalu, dia pun mendirikan Salatiga Archery Club (SAC), sebuah klub untuk menampung atlet-atlet panah. Lokasi latihan di SKB Ngebul di Jalan Veteran, Salatiga. Dari sejumlah atlet yang digodoknya, ada yang berhasil menjadi atlet panahan nasional yaitu Bambang Wahyono dan Trimudo Joko Pitono. Kebetulan, dua atlet itu adalah adik kandungnya sendiri. Bambang Wahyono selama ini menjadi atlet panahan Jatim, sedangan Trimudo yang kini karyawan PDAM Salatiga memperkuat Jateng.
Kegiatan melatih para atlet, biasanya dilakukan pada sore hari. Di sela-sela waktu senggangnya itulah dipergunakan Budi untuk membuat peralatan olahraga tersebut. Bahan untuk membuat gandar berupa kayu ramin yang sudah dioven dan bambu. Untuk busurnya, menggunakan batang bambu dan kayu mahoni. Agar kualitas anak panah dan busurnya bagus, batang bambu tersebut harus didiamkan atau dikeringkan minimal satu tahun. Itu untuk mengurangi kadar airnya selama alami.
Bahan baku bambu dari jenis bambu petung. Jenis bambu itu dikenal memiliki ruang yang panjang dan tebal. Untuk memperoleh bambu petung yang bagus, Budi sering mencarinya hingga daerah Jatim seperti di lereng Ngerong Tlogo Sarangan, Pujon Batu Malang, Gunung Wilis Kediri, dan Tawangmangu. Untuk wilayah Jateng, dia sering berburu ke Muntilan, Grabag Magelang, Banyubiru dan Suruh, keduanya masuk wilayah Kabupaten Semarang.
Harga setiap anak panah bervariasi antara Rp 20 ribu dan Rp 50 ribu, tergantung bahan yang dipergunakan. Untuk atlet-atlet nasio-nal yang kini menjadi pelatih seperti Nur Fitriyana, Lilies Handayani, serta Donald Pandiangan, diakuinya sering pesan anak buah berkualitas bagus dengan menggunakan bahan bambu rangkap tiga.
“Kalau melihat harganya, memang bisa dikatakan relatif mahal. Namun, kalau dihitungkan dengan bahan-bahan yang dipergunakan untuk membuat satu bijinya, menurut saya sangat murah. Keuntungan saya setiap menjual satu anak panah ini kecil kok,” kata Budi seraya menerangkan satu per satu bahan yang dipergunakan membuat anak panah secara rinci.
Sedangkan harga setiap busurnya rata-rata Rp 500 ribu. Namun demikian, Budi tak jarang memberikan begitu saja kepada seorang atlet bila kebetulan yang bersangkutan kesengsem dengan hasil karyanya.
Source http://koppastel.blogspot.co.id http://koppastel.blogspot.co.id/2011/04/perajin-panah-salatiga.html
Comments
Loading...