Kerajinan Angklung Di Purwokerto

0 295

Kerajinan Angklung Di Purwokerto

Terletak diantara Bandung dan Jakarta, kabupaten Purwakarta memiliki jalur lalu lintas yang strategis. Meski tergolong daerah urban, kehidupan masyarakat Purwakarta tetap bernuansa Sunda. Hal ini nampak dari ornamen penghias kota yang mempercantik daerah Purwakarta. Situ Wanayasa, Purwakarta. Danau alam nan indah ini membentang di timur kota Purwakarta.

Berlatar gunung Berangrang, danau seluas 7 hektar ini menjadi daerah wisata kebanggaan masyarakat Purwakarta. Tak jauh dari lokasi Situ Wanayasa terdapat sentra pembuatan alat musik bambu, kebanggaan orang Sunda, yaitu Angklung.

Asep, pengrajin angklung di Purwakarta, “Daeng, yang sudah dipilih untuk bahan angklung yang bagus, dipotong saja, dibawa kesana kita buat. Sekarang saya mau ngecek bahan yagn sudah ada disana. Baik Kang.”

Selaku pengrajin, Asep harus memastikan diameter tabung bambu yang dibutuhkan dalam pembuatan angklung.

Asep, pengrajin angklung di Purwakarta, “Memilih kecil besarnya dan tinggi pendeknya itu harus disesuaikan dengan kebutuhan ada. Itu sangat berpengaruh. Berpengaruh sekali, nadanya akan tinggi atau rendah gituh. Kalau kekecilan mungkin akan tinggi, kalau kebesaran akan rendah, gituh maksudnya.”

Angklung berasal dari bahasa Sunda: “Angkleung-angkleungan.” Sebutan ini muncul karena gerakan para pemain angklung yang berayun-ayun seiring irama yang dibunyikan. Alunan angklung yang merdu tak lepas dari bahan baku, berupa bambu pilihan.

Asep, pengrajin angklung di Purwakarta, “Yaitu pemilihan bambu yang halus. Yang berkualitas supaya menghasilkan suara-suara yang bagus gitu khan. Jadi harus ada bambu yang terpilih. Umurnya sudah tahunan gitu khan, sekitar berapa puluh tahunan yang paling bagus kualitasnya. Supaya nadanya tidak terlalu berubah dan waktu penebangannya juga, kita jangan terlalu musim panas banget dan jangan terlalu musim hujan banget. Supaya pas, tidak terlalu banyak yang pecah.”

Instrumen angklung terdiri dari 2 tabung bambu. Tabung-tabung tersebut diraup atau dicoak agar menghasilkan nada yang beresonansi ketika dimainkan. Meraut bambu bukan pekerjaan yang mudah. Untuk menghasilkan nada yang tepat, hasil coak harus presisi.

Berbekal indera pendengaran dan tuner, bambu yang telah diraut, kemudian diselaraskan nadanya, sesuai dengan nada yang diinginkan. Agar angklung dapat dimainkan, pengrajin membuat rangka sesuai ukuran tabung bambu. Rangka ini berfungsi sebagai tempat pengikat bagi nada rendah dan tinggi angklung. Tabung-tabung bambu kemudian ditata dalam ancak, mengikuti tangga nada oktaf. Ancak merupakan rumah bagi tabung bambu yang berfungsi sebagai penghasil suara, ketika angklung digoyang.

Untuk mempercantik tampilan, rangka-rangka angklung di ikat menggunakan rotan. Nada angklung kembali diperiksa pengrajin sebelum melewati tahap finishing. Agar permukaan angklung mengkilat dan tahan lama, pengrajin mengoleskan cairan pelitur dalam proses finishing.

Source http://rakyatjelataindonesiarajin.blogspot.com http://rakyatjelataindonesiarajin.blogspot.com/2018/05/asep-pengrajin-angklung-di-purwakarta.html
Comments
Loading...