Kerajinan Anyaman Bambu Di Rejang Lebong

0 236

Kerajinan Anyaman Bambu Di Rejang Lebong

Masyarakat yang berada di sekitar Bukit Barisan di Sumatera bagian Selatan, menjadikan perkebunan kopi sebagai sumber ekonomi. Namun, ada potensi lain yang cukup besar, yakni pengelolaan bambu. Selain menjadi tanaman pencegah erosi, baik dalam menampung air, penghasil oksigen, juga dapat dijadikan bahan makanan, kerajinan, dan bahan baku papan.

Bambu diyakini merupakan tanaman yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Termasuk pula di wilayah Bukit Barisan di Sumatera bagian Selatan; meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu dan Lampung. Di wilayah ini terdapat beberapa jenis bambu dari 159 spesies bambu yang ada di Indonesia.

Jejak sejarah bambu ini salah satunya masih terbaca dalam kehidupan masyarakat Rejang Lebong, Bengkulu. Meskipun tidak seimbang dengan keberadaan pohon kopi, di wilayah ini bambu bukan hanya ditemukan di hutan, kebun, juga di halaman rumah warga. Bambu bukan hanya digunakan untuk rakit, angkutan sungai, namun juga dijadikan dinding dan lantai rumah, peralatan rumah tangga, alat musik seruling, namun juga untuk bahan makanan.

“Ini namanya lemaeh (lema). Bahannya dari rebung yang difermentasi bersama ikan,” kata Sri, warga Desa Tebat Pulau, sambil menunjukkan lauk makanan di atas piring berwarna kuning kemerahan, dan terlihat patahan tulang ikan.

Cara membuatnya sederhana. Diambil rebung bambu yang di Rejang Lebong bernama bambu seri—berwarna hijau, berukuran besar, dan berkulit tipis. Rebung ini kemudian dicincang, dicampur ikan air tawar bersisik seperti emas, mujair, sepat. Campuran tersebut diaduk. Selanjutnya adonan tersebut disimpan di dalam sebuah wadah yang dilapisi daun pisang yang menutup rapat. Proses fermentasi selama selama tiga hari.

Saat dimasak, biasanya lemaeh menggunakan bumbu cabai, bawang merah, bawang putih, kunyit, santan kelapa, ikan, talas, sedikit gula dan garam. Saat dimakan, lemaeh dapat dicampur dengan lalapan seperti petai atau jengkol.

“Dulu, para leluhur kami meredamnya di wadah dari tanah liat bernama tajuo. Sekarang menggunakan toples atau ember. Setelah dimasak, lemaeh dapat dijadikan lauk untuk perjalanan, juga dimasukan ke dalam bambu. Tahan selama seminggu,” kata Sri.

Source http://www.mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2015/05/20/inilah-para-perempuan-yang-kreatif-memanfaatkan-bambu-hasil-hutan/
Comments
Loading...