Kerajinan Anyaman Daun Lontar Di Flores

0 770

Kerajinan Anyaman Daun Lontar

Sebagai salah satu kerajinan tradisional, anyaman memang sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia. Selain bahannya yang alami, produk turunan dari anyaman juga sangat banyak, contohnya saja tikar, keranjang, tas, dan lain-lain. Di beberapa daerah di Tanah Air, kemampuan menganyam bahkan diajarkan secara turun-temurun.

Salah satu daerah yang penduduknya memiliki kemahiran dalam menganyam adalah Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun sayang kerajinan ini sempat ‘terlupakan’ dan hanya ibu-ibu paruh baya yang memiliki kemampuan menganyam. Pada 2015, kerajinan menganyam ini kembali dibangkitkan oleh Hana Keraf dan kawan-kawan. Dengan mendirikan organisasi Du’ Anyam di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Du’ Anyam adalah sebuah kewirausahaan sosial yang mengusung peran aktif dalam mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak yang terjadi di NTT. Lewat Du’Anyam, Hanna dan teman-temannya menggandeng para ibu dan wanita di daerah NTT untuk menganyam daun lontar sebagai satu alternatif pendapatan tambahan dari sekadar berladang.

Menciptakan produk berkualitas & meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar adalah dua hal yang berusaha dibangun Du’ Anyam.

Meski tergolong bisnis sosial yang masih muda, namun kini Du’Anyam memiliki kurang lebih 300 ibu dan wanita penganyam dari 16 desa di NTT. Tentunya angka tersebut buah keringat mereka selama 4 tahun terakhir. Hal ini yang diamini Hanna sebagai sebuah achievement atas apa yang ia lakukan sejauh ini. Para ibu dan wanita kini sudah memiliki pendapatan lebih selain berkeringat di ladang pertanian. Di sela waktu, atau dalam kondisi mengandung, mereka dapat menganyam.

Namun, jauh sebelum semua itu tercapai, Hanna membagi sedikit ceritanya saat membangun Du’Anyam. Berbekal 16 pengrajin di tahun 2013, ia dan temannya terus melakukan inovasi serta mengedukasi para penganyam agar kualitas produk yang dihasilkan tetap terjaga. Dari 16 ibu-ibu pertama yang bergabung, hampir semuanya menginjak usia 40 tahun ke atas, dan kini semakin banyak perempuan muda menjadi pengrajin Du’Anyam.

“Setelah penjualan pertama kami, peningkatan ekonomi ibu dan wanita cukup meningkat. Dari yang sebelumnya hanya bertani dengan pendapatan per tahun sekitar 6-8 juta, kini para ibu dan wanita bisa mendapat Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu per minggu,” tutur Hanna.

Source https://www.goodnewsfromindonesia.id https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/01/30/berdayakan-kreatifitas-du-anyam-turut-tingkatkan-taraf-hidup-masyarakat-ntt
Comments
Loading...