Kerajinan Anyaman Tikar Pandan Di Aceh

0 592

Kerajinan Anyaman Tikar Pandan Di Aceh

Sebagian masyarakat Aceh Utara masih menganyam perekonomian dari hasil kerajinan tangan tikar pandan. Di rumahnya di Gampong Kuala Keurto, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, Nurhayati duduk di lantai tanpa beralaskan tikar. Justru sebaliknya, dia tengah menganyam tikar pandan yang biasa menjadi alas duduk masyarakat Aceh.

Daun pandan dijadikan Nurhayati sebagai bahan baku membuat tikar berbagai motif dan ukuran. Dia sudah bertahun-tahun menggeluti pekerjaan ini. Katanya, selain sebagai mata pencaharian, juga meneruskan kearifan lokal peninggalan nenek moyangnya.

Namun diakui Nurhayati, proses pembuatan tikar pandan tidak mudah seperti dibayangkan orang. Ia membutuhkan waktu berhari-hari. Dimulai dengan mendapatkan bahan baku, yaitu daun pandan yang masih tumbuh.

“Kalau proses pembuatan tikar dari daun pandan memang agak sedikit melelahkan. Bahan baku dimaksud, daun pandan yang panjangnya mencapai 2 meter,” ujarnya. Daun pandan mentah itu kemudian dibersihkan, lalu dijemur. Selanjutnya, kata Nurhayati, daun pandan kering itu disayat atau dibelah-belah menurut alur panjangnya. Kemudian direbus agar lunak. Potongan daun pandan yang sudah direbus dikeringkan kembali dengan dijemur di terik matahari. Setelah kering, diwarnai sesuai keinginan dengan mencelupkannya dalam zat pewarna yang telah dimasak dengan air panas.

Nurhayati menambahkan, potongan daun pandan yang sudah rata diwarnai, diangkat guna dijemur kembali hingga kering. Setelah pengeringan itu, barulah potongan daun pandan itu dianyam sesuai dengan kebutuhan.

Katanya, dia dalam sepekan berhasil menganyam satu model tikar pandan. Akan dipasarkannya jika sudah terkumpul minimal 6 lembar tikar. Proses panjang dan melelahkan. “Bagaimanapun, saya harus melakukan kegiatan ini karena ini mata pencaharian saya,” ucap ibu tujuh anak ini.

Nurhayati banyak mendapat pesanan tikar dari warga sekitar tempat tinggalnya. Dia menawarkan harga bervariasi tergantung motifnya, mulai Rp150 ribu hingga Rp270 ribu per tikar. Pesanan biasanya datang dari guru hingga pekerja kantor.

Tak hanya dia. Kata Nurhayati, sebagian warga Gampong Kuala Keurto khususnya kaum ibu, menjadikan kegiatan anyaman tikar sebagai mata pencaharian. Kegiatan itu sudah berlangsung turun-temurun dan masih eksis hingga hari ini.

Dia meyakini tikar anyaman masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat, baik untuk keperluan istirahat maupun kebutuhan kenduri terutama saat ada orang meninggal. Minat beli dari masyarakat sangat tinggi, sebutnya, khususnya di wilayah Kecamatan Lapang, Aceh Utara.

Pun demikian, ia harapkan kerajinan tikar anyaman dapat tetap lestari. Karena menurutnya, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ini juga merupakan bagian dari menjaga kelestarian karya dari nenek moyang terdahulu.

Source Kerajinan Anyaman Tikar Pandan Di Aceh Kerajinan Anyaman Tikar Pandan Di Aceh
Comments
Loading...