Kerajinan Asbak Bonggol Bambu Di Bojong

0 183

Kerajinan Asbak Bonggol Bambu Di Bojong

SANGGAR seni yang dibangun di teras rumah warga di RT 10 RW 04 Desa Kalipancur, cukup elok. Teras rumah tersebut dimodifikasi dan diperindah dengan berbagai lukisan dari bahan kulit sapi, kanvas, dan papan tertata di segala sudut dinding. Bukan hanya lukisan berbagai kisah pewayangan, lukisan imajinatif hasil karya anak-anak desa juga terpampang apik.

Di sudut sanggar, sejumlah pemuda tampak sibuk membuat kerajinan berbahan bonggol bambu. Beberapa hasil setengah jadi telah terbentuk berupa asbak dan celengan.

Ketua Sanggar Dharma Putra, Bangkit Praminto Nugroho, 21, mengatakan bahwa sanggar tersebut berlokasi di rumah Suprantono, 39, lulusan ISI Jogjakarta yang sekarang bekerja sebagai manager agent di sebuat perusahaan asuransi jiwa. Suprantono menjadi salah satu anggota dewan pembina
sanggar tersebut.

“Kebetulan Mas Suprantono sedang keluar. Pelatihan dan produksi bahan bambu biasanya setiap hari Sabtu. Hasil produksinya berupa asbak, celengan dan tempat ballpoint,” kata Bangkit.

Pemuda lulusan SMA Sragi itu menambahkan, kerajinan bonggol bambu yang dihasilkan berupa asbak dengan hiasan burung bangau dibanderol Rp 20 ribu untuk ukuran kecil, Rp 30 ribu untuk ukuran sedang dan Rp 50 ribu untuk ukuran besar.

Produk lainnya yakni celengan berbagai bentuk hewan yang dijual antara Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu per buah. Sedangkan tempat ballpoint seharga Rp 7.000 – Rp 8.000 per buah.

Yang unik dari produk kerajinan tersebut adalah asli alias orisinil kerajinan tangan yang masih menampakkan bonggol bambu yang sudah dihaluskan dari akar-akarnya yang sebelumnya menjuntai. Keunikan lainnya yakni hiasan burung bangau dari kayu sengon yang dibiarkan polos tanpa tambahan mata dari bahan lain atau cat sebagai aksen.

“Kami memasarkannya melalui blog, ikadaputblogspot.com dan Facebook Ikatan Pemuda Dharma Putra. Per minggu kami produksi sekira 30 asbak,” jelasnya.

Selain kerajinan bonggol bambu, kegiatan yang dilakukan juga berupa melukis dan mewarnai, bermusik, bengkel dan pembuatan siomay. Selain nguri-uri kelestarian budaya, para anggota sanggar juga bisa mendapatkan hasil dari karya sebagai tambahan pendapatan. “Beberapa anggota, banyak yang melatih drum band, rebana dan kesenian di sekolah-sekolah di Kabupaten Pekalongan,” imbuhnya.

Namun banyak kegiatan lainnya yang berorientasi untuk kepentingan sosial, seperti kegiatan melukis dan mewarnai untuk siswa TK, perpustakaan yang meminjamkan buku secara gratis hingga donor darah rutin tiga bulan sekali. “Kami sudah bekerjasama dengan petugas PMI untuk kegiatan rutin tiga bulan sekali,” kata Nanang Asmono, 38, anggota Dewan Pembina Sanggar Seni Budaya Dharma Putra.

Kini, anggota sanggar lebih dari 40 pemuda. Rencananya, kata Nanang, sanggar akan membuka usaha percetakan dan bengkel motor balap. Sejumlah bantuan alat percetakan dan peralatan bengkel berasal dari bantuan Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinpora) Provinsi Jawa Tengah. “April besok kami ikut pelatihan. Untuk peralatannya Insyaallah datang pada Juni mendatang,” paparnya.

Usaha lainnya yang saat ini sudah berjalan adalah pembuatan siomay ikan tengiri dengan cara pemasaran keliling dan siap menerima pesanan. Para anggota sanggar berharap usaha tersebut bisa berkembang, sehingga memungkinkan bisa menjadi penghasilan pokok dengan tetap mengedepankan misi sosial.

Comments
Loading...