Kerajinan Asbak Di Desa Sumbersalak

0 165

Kerajinan Asbak Di Desa Sumbersalak

Taufik, salah satu pengrajin asbak di Desa Sumbersalak, kecamatan Ledokombo, kabupaten Jember berharap agar usaha asbaknya berjaya lagi. Usaha asbak ini berdiri dari tahun 1996, didirikan oleh pensiunan buruh rel kereta api, Haji Syafi’i. Ia adalah mbah mertua dari Taufik. Untuk memulai usahanya mereka pakai modal sendiri. Mereka merakit sendiri mesin gergaji sederhana dengan menggunakan tenaga listrik. Mesin rakitannya dipakai bertahun-tahun sampai usahanya berhenti.

“Tidak langsung bagus, tapi sering gagal, kata Haji Syafi’i”. Dalam membuat asbak, mereka hanya berbekal kemauan saja  karena memang sebelumnya tidak pernah membuat asbak sehingga setelah berkali-kali mencoba barulah kerajinannya layak dijual. Untuk tempat pemasokan di Bali, mereka dibantu oleh saudaranya yang bekerja sebagai kuli disana.

Awalnya kerja sendiri, dan mendapat omset pertama yang sebesar Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Jumlah pendapatan tersebut sudah besar bagi mereka di tahun 1996. Namun karena semakin banyaknya pesanan maka mereka mengajak saudara dan tetangga untuk bekerja dipabriknya sehingga usaha ini mengalami perkembangan pesat pada tahun 2012 sampai 2014. Keuntungan yang diraup cukup tinggi, antara Rp 500.000 sampai Rp 3.000.000/ bulan.

Modelnya bermacam-macam, ada yang berbentuk kura-kura, bebek, gajah, dan lain-lain. Sedangkan ongkos untuk pekerjanya tergantung dari jumlah pengiriman. Jika semakin banyak asbak yang dipesan maka ongkos pekerja juga banyak dan sebaliknya. Asbak bagi mereka sudah menjadi penghasilan utama untuk menghidupi keluarganya sehari-hari.

Source Kerajinan Asbak Di Desa Sumbersalak Kerajinan Asbak Di Desa Sumbersalak
Comments
Loading...