Kerajinan Atap Rumbia Di Bengkulu Utara

0 154

Kerajinan Atap Rumbia Di Bengkulu Utara

Tak pernah menyerah. Itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sosok Tazrani warga Desa Sukarami Kecamaan Air Padang, Bengkulu Utara (BU). Ia buta, karena mengidap kelainan mata sejak kecil. Tapi, lelaki ini menjadi pengrajin atap rumbia yang mumpuni.

Walau buta, atap rumbia buatannya tak kalah dengan kecakapan orang lain yang tanpa memeiliki cacat tubuh. Bapak 4 anak ini sudah mengalami kebutaan sejak usia menginjak 3 tahun. Tak diketahui penyebab kelainan matanya itu. Sehingga ia harus terkukung dalam kegelapan dunia. Meski buta, putra daerah desa itu memiliki ketrampilan yang ia tekuni untuk menghidupi keluarganya.

“Saya tidak tau apa penyebab mata saya ini. Tiba-tiba saja, dulu seperti ini. Dulu pernah diperiksa, tapi tidak ada biaya untuk operasi. Akhirnya saya belajar sendiri untuk membuat atap rumbia,” ujarnya.

Setiap hari ia mengerjakan 8 keping atap rumbia. Hasil karyanya dijual kepada warga yang membutuhkan, seharga Rp 3 ribu setiap kepingnya. Penjualan hasil kerajinannya sudah sampai ke Kecamatan Padang Jaya dan Ketahun. Sehingga untuk borongan yang ia dapatkan mencapai 100 keping dengan keuntungan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Istrinya, Rahedah miliki keterbelakangan mental. Namun masih bisa mengurus suami, rumah dan anak-anak mereka. Hidup sederhana dan serba pas-pasan tak membuat keluarga ini menyerah. Selalu berusaha dengan kondisi seadanya.

Sedikit demi sedkit hasil penjualan atap rumbia yang disisihkan dapat membangun rumah kecil di desa itu, tempat keluarganya berteduh.

Walau mandiri, keluarga ini memang tetap berharap mendapatkan perhatian pemerintah, paling tidak memfasilitasi pengembangan keterampilan yang dimiliki Tazrani.

Source http://bengkuluekspress.com http://bengkuluekspress.com/mata-tak-melihat-jadi-pengrajin-rumbia/
Comments
Loading...