Kerajinan Atap Rumbia Di Cilacap

0 397

Kerajinan Atap Rumbia Di Cilacap

Namanya Kartowinangun, Dia adalah salah satu pengrajin atap daun rumbia di Desa Ciklapa, Kecamatan Kedungreja, Kabupaten Cilacap. Bersama istrinya, sejak 1985 ia menggeluti pekerjaan itu sebagai penghasilan utama keluarga.

Bapak dari 9 anak ini menceritakan sebelum 1985 ia sudah pernah menggeluti bisnis Rumbia ini, tapi karena tuntutan kebutuhan, ia mencoba beralih ke beberapa pekerjaan, seperti nelayan dan pekerja bangunan. Tapi lama kelamaan, ia merasa bahwa jalan hidupnya tetap ada di bisnis atap Rumbia. Maka di 1985, ia kembali menggeluti bisnis ini sampai sekarang.

“Penghasilannya tidak seberapa, Kita membeli daun Rumbia dari penduduk 1 gulungnya Rp 11.000,- Dari satu gulung tersebut paling-paling hanya memperoleh 30 lembar anyaman. Satu anyaman kita jual seharga Rp 600,- sampai Rp 900,- ke bandar. Belum lagi biaya bambu dan ongkos menganyam warga yang ikut membantu menganyam. Jadi, hanya bisa pas-pasan aja”, ungkap Kartowinangun.

Kartowinangun memang terbiasa memberikan pekerjaan anyaman kepada tetangga-tetangganya. Ia hanya memotong ukuran daun, kemudian istri dan anaknya serta para ibu rumah tangga di sekitar rumahnya yang menganyam. Ongkos anyam tergantung dari harga per lembar rumbia. Jika ukuran lebar 1 meter ia jual ke bandar Rp 900,-/lbr, maka ongkosnya adalah Rp 90,-/lbr. jika ukuran lebar 80 cm maka ongkosnya menjadi Rp 60,-/lbr. Jadi hitungannya adalah 10 prosen dari harga jual ke bandar.

Menurut Karto, kebanyakan pembelinya adalah pengrajin batu bata. Mereka menggunakan daun rumbia untuk atap gubuk pembakaran batu bata. Beberapa pembeli dari Jogjakarta bahkan membeli atap daun ini untuk di sewakan di ajang pesta-pesta perkawinan.

Desa Ciklapa memang termasuk desa yang kaya akan daun Rumbia, Hampir disepanjang anak sungai Ciberem yang alirannya masuk ke desa tumbuh daun Rumbia atau yang di sini lebih terkenal dengan nama Kajang. Ada banyak pengrajin Rumbia di Desa Ciklapa. Kebanyakan aku temui pengrajin daun ini di sepanjang pinggiran sungai Ciberem. Kebanyakan pengrajinnya adalah para orangtua, seperti Kartowinangun.

Kartowinangun sadar lambat laun kebutuhan orang akan atap daun Rumbia akan semakin kecil. Jikapun ada mungkin harganya sudah tak sesuai lagi dengan kebutuhan sehari-hari. Dunia modern lebih mengenal bahan-bahan atap yang berbau beton dan seng. Tapi lagi-lagi keterbatasan kondisi dan pengetahuan membuat ia tetap menjalani bisnis alam yang telah diturunkan keluarganya. Mungkin juga pemanfaatan alam inilah yang menjaga bumi tetap asli dan tak tercemar. Atap rumbia lebih mudah terurai ketika ia telah menjadi sampah.

Source http://suarakomunitas.net http://suarakomunitas.net/baca/2650/kartowinangun-dan-eksistensi-atap-rumbia/
Comments
Loading...