Kerajinan Baju Kuda Lumping Di Yogyakarta

0 363

Kerajinan Baju Kuda Lumping Di Yogyakarta

Suara jangkrik bersahutan di rumah seniman di Dusun Ngaglik, Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur ini.

Sutijab masih sibuk merajut manik-manik di seragam kuda lumping buatannya, meski hari sudah malam. Sutijab ditemani oleh istrinya nampak asyik bekerja, dengan sesekali melihat televisi yang gencar menyiarkan sidang MKD seputar kasus “Papa Minta Saham” yang diduga melibatkan elit politik.

Di hadapannya terdapat teh dengan gula batu yang menambah suasana di rumahnya yang nyentrik menjadi lebih asyik.

“Daripada mikirin politik dan elit politik yang pragmatis soal saham freeport, saya mendingan bikin seragam kuda lumping. Soal uang tidak seberapa, tetapi anak-anak bangsa masih tetap mencintai budaya dan bukan politik praktis,” ujar Sutijab.

Bekerja di bidang kesenian dan pertanian, kata Sutijab merupakan sebuah hal yang saat ini memang tidak terlalu dipandang anak muda. Dia prihatin ketika banyak anak mulai melupakan kultur budaya, dan meremehkan pertunjukan tradisional yang digelar di berbagai wilayah.

Dengan alasan itu, dia memulai pekerjaannya sebagai pembuat seragam kuda lumping dan topeng ireng agar kesenian ini terus eksis.

Sejak puluhan tahun lalu, Sutijab memang membuat kuluk dan pakaian kuda lumping untuk kepentingan pementasan lokal. Hobi membuat seragam ini dilakukannya di tengah kesibukannya sebagai pendalang, penyanyi kuda lumping, dan pengrawit.

Biasanya, jika belum ada tanggapan, dia memanfaatkan waktu luang untuk sekedar menjahit pakaian kuda lumping yang terbuat dari kain lamen, spons, mutik-mutik (manik-manik).

Menjahitnya pun sederhana, yakni dengan jarum dan benang yang dikerjakannya secara teliti. Dia mengaku sanggup mengerjakan satu setel pakaian kuda lumping yang disebutnya dengan rampek ini selama 10 hari.

Meski menelan waktu yang tidak singkat, namun dia menjamin hasil karyanya itu memiliki kekhasan dan berbeda dengan pakaian kebanyakan. Pemilik Sanggar Seni Omah Saking Ndene ini menjelaskan, lantaran pakaiannya itu diminati grup kesenian kuda lumping, dia pernah menerima pesanan hingga Yogyakarta. Seperti, jathilan Glagah, Samigaluh, topeng ireng Nariban, serta topeng ireng ringin anom.

Source http://jogja.tribunnews.com http://jogja.tribunnews.com/2015/12/06/kisah-sutijab-seniman-kaki-menoreh-pembuat-baju-kuda-lumping?page=3
Comments
Loading...