Kerajinan Baju Pangsi Di Tasikmalaya

0 361

Kerajinan Baju Pangsi Di Tasikmalaya

Indonesia memiliki beragam kebudayaan di setiap daerah. Mulai dari adat istiadat, bahasa, pakaian daerah dan lainnya. Salah satunya Jawa Barat yang menjadikan totopong (ikat kepala) sebagai ciri khas resmi masyarakat Sunda kepada turis mancanegara.

Terlebih kini sebagian pemerintah daerah meminta seminggu sekali karyawannya mengenakan baju pangsi dan totopong. Karena beberapa kepala daerah yang mewajibkan semua karyawannya mengenakan iket sunda dan baju pangsi, membuat pengrajin iket dan baju  pangsi, kebanjiran orderan.

Terlebih kini menjelang bulan Ramadhan, para pengrajin tiap harinya menjual 1000 potong iket kepala dan baju khas adat sunda.

Seperti di pengrajin Jalan Cempaka Warna, Cihideung, Kota Tasikmalaya kebanjiran orderan. Pengrajin bernama lengkap Ubad Muslim yang terkenal dengan ikat Sunda Ki Dulur, dalam sehari sekitar seribu potong totopong laku terjual.

Harga totopong siap pakai buatan Ubad dijual mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu per potong. Sedangkan harga baju pangsi dijual mulai dari Rp 60 ribu hingga Rp 600 ribu, satu stelnya.

Banyaknya permintaan pasar, menjadikan beberapa pengrajin memperkerjakan beberapa ibu rumah tangga di kampungnya. “Sejak bekerja disini, lumayan bisa membantu ekonomi keluarga,” kata Rina Marlina, salah seorang pekerja.

Pengrajin bernama Ubad Muslim bukan hanya memperoleh penghasilan dan keuntungan semata. Namun ada kepuasan tersendiri karena bisa melestarikan budaya Sunda. “Hasil karya  saya biasa dipasok ke Ciamis, Majalengka, Bandung, Purwakarta, Subang dan Cianjur,” kata Ubad.

Pembeli ikat kepala dan baju pangsi bukan saja dari kalangan biasa, namun pelajar, mahasiswa, pejabat hingga artis membelinya. Bahkan, totopong kini rutin dikirim agen penjualan pakaian ternama di Lampung, Sumatera dan Maroko.

Para pengrajin berharap dinas Parawisata, Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar, tidak sekadar mengajak para pengrajin ikat Sunda ikut pameran ke berbagai tempat. Namun mereka butuh pelatihan untuk meningkatkan kualitas produknya, seperti manajemen usaha pemasaran dan kredit usaha dengan bunga ringan.

Totopong merupakan kain batik bermotif Sunda yang berbentuk persegi dengan ukuran 50×50 cm. Kain ini kemudian diikatkan pada kepala dan dibentuk sesuai dengan variasi yang diinginkan.

Sejak dulu pemakaian totopong telah menjadi simbol perlawanan rakyat melawan penjajahan Belanda dan Jepang. Pada era kemerdekaan, totopong dijadikan sebagai alat membedakan kelompok penjajah dan pejuang saat terjadi perang dan juga menjadi simbol pemersatu masyarakat dan pengobar semangat.

Fungsi totopong sebagai simbol identitas diri dilihat dari ragam pola mengikatnya. Dahulu bentuk ikatan totopong yang dipakai menunjukkan status sosial seseorang di masyarakat. Cara mengikat totopong juga berbeda antara bangsawan dan rakyat biasa.

Source https://nusantara.rmol.co https://nusantara.rmol.co/read/2014/06/14/159517/Jelang-Lebaran,-Pengrajin-Baju-Pangsi-dan-Ikat-Kepala-Sunda-Kebanjiran-Order-
Comments
Loading...