Kerajinan Bak Sampah Di Pasuruan

Seorang perajin menata limbah ban bekas yang dibentuk menjadi tempat sampah, dan digambar dengan teknik air brush, di kawasan Jalan Raya Mojorejo, Desa Junrejo, Kota Batu, Jatim, Jumat (5/2). Tempat sampah bergambar terbuat dari limbah ban bekas tersebut dijual dari harga Rp 50ribu hingga Rp 400 ribu yang wilayah pamasaranya meliputi Jakarta, Bali, Sulawesi dan bebapa kota di Jatim antara lain Pasuruan, Kediri serta Mojokerto. ANTARA FOTO/Adhitya Hendra/ed/mes/14.
0 598

Kerajinan Bak Sampah Di Pasuruan

Saidah warga Kelurahan Gentong Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan sukses berbisnis kerajinan bak sampah dari ban bekas. Usaha yang dirintis dari nol itu pun mampu bertahan hingga 17 tahun. Saidah mengisahkan, ia memulai usahanya setelah menikah 17 tahun silam. Bersama almarhum suaminya, ia mengaku mengalami suka dan duka saat memulai usahanya tersebut. Pada awal merintis usaha, seminggu dagangan tak laku pun sering dialaminya. Namun tak ada kata menyerah.

“Memang tak ada pilihan lain waktu itu. Apa yang suami bisa lakukan saya dukung. Usaha seperti ini jarang dilakukan orang, karena itu mungkin bisa berhasil. Sebagai istri saya memberi dukungan terus pada suami,” kenang Saidah.


Selain kerja keras dan terus berdoa, lanjut Saidah, inovasi juga sangat dibutuhkan dalam usaha apapun, tak terkecuali usaha kerajinan ban bekas.

“Awalnya dulu bak sampah dijual polos. Kemudian diberi warna. Sekarang orang suka yang ada gambarnya seperti bunga dan kartun. Besok-besok pasti ada lagi misalnya bentuknya harus seperti apa. Ya harus diikuti keinginan pembeli,” terangnya. Saidah yang mengaku sudah memahami seluk-beluk usaha kerajinan ban bekas itu menambahkan, demi menuruti selera pasar, ia bisa menyulap ban bekas menjadi barang lain seperti perkakas rumah tangga hingga aneka jenis tali

“Semua saya layani pokoknya dari ban bekas. Kan sayang ada sisa-sisa ban yang tak terpakai daripada dibuang bisa dibuat macam-macam,” paparnya. Namun yang paling penting bagi Saidah adalah bagaimana memperlakukan karyawannya. Apalagi, sejak suaminya meninggal setahun lalu, ia mempercayakan semua proses pembuatan kerajinan pada karyawan.

“Saya anggap mereka keluarga. Hak-hak mereka jangan sampai tak dipenuhi,” tegasnya.
Saidah mengaku tak banyak mengambil untung dari usahanya. Usaha yang dimilikinya sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari bersama kedua anaknya. “Saya sudah bisa naik haji bersama suami dari usaha ini. Anak-anak juga bisa sekolah. Yang penting cukup untuk kebutuhan sehari dan sedikit menabung,” pungkasnya.

Source https://news.detik.com https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3948279/resep-usaha-kerajinan-bak-sampah-saidah-bertahan-hingga-17-tahun?_ga=2.137565554.31111911.1524099710-2015879252.1524099710
Comments
Loading...