Kerajinan Bakiak Di Nganjuk

0 323

Kerajinan Bakiak Di Nganjuk

Sandal bakiak, yang sudah lama ada sejak jaman dahulu ini, ternyata masih dilestarikan seorang warga di Kabupaten Nganjuk. Meski kalah bersaing dengan sandal karet, pengrajin bakiak tersebut, tetap setia menekuni usahanya, karena ingin melestarikan keberadaan bakiak.

Dialah Mujiono warga Dusun Tawang Rejo, Desa Kedung Ombo, Kecamatan Tanjung Anom Kabupaten Nganjuk, yang masih bertahan membuat sandal kayu atau sandal bakiak. Di tengah maraknya sandal karet yang menjamur di pasaran, bapak dengan satu orang anak ini, masih setia menggeluti pembuatan bakiak sebagai mata pencaharian sehari-hari.

Selain karena sandal bakiak sudah jarang di pasaran, Mujiono menggeluti kerajinan bekiyak ini karena ingin melestarikan bakiak yang sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu.
Tidak semua jenis kayu bisa dijadikan sebagai sandal bakiak, hanya kayu jenis mentaos yang bisa digunakan sebagai bakiak. Selain karena kayu jenis ini ringan dan mudah dibentuk, kayu mentaos  juga sangat kuat dan tidak mudah rapuh, jika terkena air.
Untuk membuat bakiak, ternyata tidaklah terlalu sulit, namun membutuhkan keterampilan khusus, dan telaten. Pertama-tama, kayu mentaos yang sudah dipilih harus digergaji terlebih dahulu sesuai ukuran yang ada, selanjutnya kayu tersebut dibelah untuk dibentuk sandal bakiak.
Sebelum dipahat, kayu dimal dengan kertas menggunakan pensil, yang sudah berbentuk sandal dari berbagai ukuran. Selanjutnya kayu dipahat dengan menggunakan parang.
Sekitar 10 menit, sepasang sandal sudah terbentuk. Agar bakiak nyaman dipakai, kayu dihaluskan dengan menggunakan parang pula. Proses finishing, kayu yang sudah berbentuk sandal, selanjutnya  diberi karet pada atasnya, dengan pengikat paku.
Dengan bekal sedikit keahlian dan peralatan seadanya, dalam tiga hari, Mujiono yang sudah menjadi pengrajin bakiak sejak tahun 85 tersebut mampu menghasilkan 50 bakiak. 50 bakiak itu dihasilkan dari satu batang pohon mahoni, ukuran sekitar 3 meter yang ia beli sekitar Rp 100 ribu rupiah.
Sementara satu pasang bakiak ia jual antara Rp 4 ribu hingga Rp 5 ribu, sehingga keuntungan yang ia dapatkan sekitar Rp 100 ribu rupiah per satu batang pohon mahoni, sebab terpotong untuk biaya beli karet ban sebagai pengikat bakiak dan biaya transportasi saat mengambil kayu batang mahoni. Keuntungan itupun dalam tiga hari sekali.
Meskipun begitu, ia tetap menekuni yang menjadi satu satunya pekerjaannya, demi mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah sang anak.
Meski sudah menggeluti usaha ini sejak lama, namun sayangnya pemerintah daerah sama sekali tidak meperhatikan Mujiono yang tergolong sebagai usaha kecil menengah (UKM). Mujiono sendiri berharap pemerintah memberikan bantuan modal atau bantuan alat, agar usaha yang dirintisnya tersebut bisa terus berkembang dan bekiyak tidak punah di pasaran.
Source http://pojokpitu.com http://pojokpitu.com/baca.php?idurut=36754&&top=1&&ktg=Jatim&&keyrbk=Peristiwa&&keyjdl=Bakiak%20Sandal%20Tradisional
Comments
Loading...