Kerajinan Bambu Di Jeneponto

0 344

Kerajinan Bambu Di Jeneponto

Bambu memiliki banyak manfaat baik bagi lingkungan maupun sebagai sumber pendapatan masyarakat. Pertumbuhannya pun sangat cepat, hanya membutuhkan tiga sampai lima tahun untuk siap panen dan dapat tumbuh di berbagai lahan.

Di Kabupaten Jeneponto, tanaman bambu lebih dikenal dengan sebutan “bulo”. Tanaman ini tersebar merata hampir diseluruh kecamatan di Jeneponto, termasuk di Kecamatan Rumbia tepatnya di Desa Tompobulu dan Lebang Manai Utara. Walaupun ada yang tumbuh liar, namun sebagian besar bambu di Jeneponto sengaja ditanam oleh petani di tepi sungai dan pinggiran kebun, sebagai pembatas kebun. Bambu merupakan salah satu jenis tumbuhan memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Ada tiga jenis bambu yang dikenal oleh masyarakat Jeneponto, yakni bambu “pattung” atau lazim disebut bambu petung, bambu “parring” atau bambu tali/apus dan bambu kuning.

Diantara ketiga jenis bambu yang ada di Jeneponto, bambu petung dengan nama ilmiah Dendrocalamus asper ini merupakan jenis bambu yang banyak digemari dan dikembangkan oleh petani di Desa Tompobulu. Bambu petung amat kuat, jarak ruas pendek, dindingnya tebal, sehingga tidak begitu lentur. Batang bambu petung banyak digunakan untuk konstruksi bangunan, pagar rumah, tangga untuk panen cengkeh dan tunas mudanya yang dikenal sebagai rebung merupakan sumber bahan makanan. Bambu petung memiliki nilai jual Rp8.500,00 per batang dengan panjang 8 meter di tingkat desa; dan hampir dua kali lipat apabila dijual di kota, yaitu Rp15.000,00 per batang dengan panjang yang sama.

Selain bambu petung, bambu apus/tali atau lebih dikenal dengan sebutan bambu parring juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pagar rumah, bahan baku kerajinan rumah tangga, yang di Jeneponto disebut sebagai “gamacca”, yaitu anyaman sayatan kulit maupun isi bambu. Perbedaan kedua bahan tersebut adalah tingkat keawetan dari ‘gamacca’ yang dihasilkan. Gamacca dari sayatan kulit bambu lebih tahan lama bila dibandingkan dengan sayatan isi bambu.

Sebagian besar masyarakat di pedesaan Suku Bugis dan Makassar menggunakan gamacca sebagai dinding rumah pengganti papan. Hingga saat ini, gamacca yang tertempel sebagai dinding atau yang dikenal dengan bilik masih sering ditemui. Selain itu, gamacca ini juga digunakan sebagai salah satu perlengkapan penting untuk kegiatan budaya, yaitu sebagai salah satu pelengkap pada upacara pernikahan.

Sejak tahun 1950an, Desa Lebang Manai Utara, Kecamatan Rumbia telah menjadi salah satu tempat pengrajin gamacca terbesar di Kabupaten Jeneponto. Menurut Dg. Baha, salah satu pengrajin gamacca yang mewarisi usaha orang tuanya tiga tahun yang lalu, mengatakan, ”Pengrajin anyaman bambu di desa ini didominasi oleh kaum hawa, jadi peran perempuan dalam menganyam sangatlah penting karena mereka yang mengetahui motif-motif yang akan dibuat. Sementara, dalam pembuatan gamacca ini peran laki-laki adalah memotong bambu dan menyayatnya setipis mungkin untuk menjadi bahan anyaman.

Bahan baku gamacca adalah bambu yang agak muda agar tidak terlalu keras jika dipotong. Dalam sehari Dg. Baha dan istrinya bisa menyelesaikan 4 lembar anyaman bambu yang berbahan baku isi bambu, atau per lembar anyaman dapat diselesaikan dalam waktu 2-3 jam. Akan tetapi, jika bahan yang digunakan bagian kulit bambu, mereka hanya bisa menyelesaikan 2 lembar per hari atau 3-4 jam per lembarnya, karena anyaman kulit bambu cukup sulit dilakukan dan menggores kulit tangan. Satu lembar anyaman bambu biasanya menghabiskan 8-10 batang bambu.

Source http://kiprahagroforestri.blogspot.com http://kiprahagroforestri.blogspot.com/2015/12/Bambu-Potensi-Sumber-Pendapatan-Masyarakat-Jeneponto.html
Comments
Loading...