Kerajinan Bambu Di Pringsewu

0 260

Kerajinan Bambu Di Pringsewu

Sesuai dengan namanya  Kabupaten Pringsewu bearti seribu bambu. Kawasan ini memiliki kekayaan tanaman bambu. Di kabupaten ini ekonomi kreatif kerajinan bambu mempunyai prospek cerah.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ansori salah satu pengrajin di Desa Tulungagung Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu. Ia mengungkapkan sebelum gencar istilah ekonomi kreatif, warga di desa tersebut sebetulnya telah memanfaatkan penggunaan bambu untuk berbagai keperluan baik dalam kontruksi rancang bangun rumah, keperluan sehari hari membuat topi petani, wadah makanan,keranjang serta berbagai keperluan berbahan dasar bambu.
Berbekal pengalaman dari wilayah Tulungagung Jawa Timur dalam keahlian membuat kerajinan berbahan baku bambu tepat guna,Ansori mengaku keberadaan bambu di Pringsewu merupakan kesempatan untuk pemanfaatan bambu menjadi bahan yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.Seiring perkembangan zaman dengan banyaknya permintaan kerajinan tangan berbahan baku bambu dan menjadikan kerajinan tangan sebagai salah satu cabang ekonomi kreatif maka pembuatan kerajinan tangan (handycraft) buatan tangan (handmade) diakui Ansori semakin bertumbuh.
Perhatian dari pemerintah daerah juga diakui oleh Ansori dengan memberi pelatihan bagi masyarakat yang selama ini hanya membuat bambu menjadi tampah (wadah bambu), irig, kalo,sutil bambu, pengaduk nasi dari bambu, serta sebagian dibuat caping bambu. Pelatihan yang diajarkan antara lain  pembuatan minaitur kapal, panah hias, kendang bambu, alat musik angklung bahkan cangkir,teko terbuat dari bambu, souvenir dan mainan anak anak dari bambu.
“Memang awalnya sebagian warga sudah bisa membuat kerajinan dari bambu namun karena keterbatasan pengetahuan membuat jenis kerajinan yang dibuat terbatas hanya untuk keperluan rumah tangga, tapi dengan adanya pelatihan maka mereka lebih bisa beragam dalam membuat kerajinan kreatif yang bisa dijadikan souvenir apalagi Pringsewu dikenal karena bambunya,”ungkap Ansori salah satu pengrajin bambu yang ada di Desa Tulungagung Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu.
Ia mengakui perkembangan ekonomi kreatif di Pringsewu juga didukung dengan dibukanya tempat penjualan souvenir yang ada di area tugu gerbang bambu yang juga dilengkapi dengan kios kios untuk menjajakan kuliner termasuk oleh oleh khas Pringsewu. Pengrajin bambu di wilayah tersebut menurut Ansori bahkan didominasi kaum wanita untuk pembuatan anyaman dari bambu untuk membuat kalo, irig sementara kaum laki laki membuat kerajinan dari bambu termasuk geribik dan plafon bangunan bermotof batik. Kemampuan yang sudah dimiliki sejak kecil rata rata dibawa sejak dari daerah asal di Tulungagung Jawa Timur. Selain itu sebagian anak anak yang sudah memiliki kemampuan membuat kerajinan dari bambu bahkan menggunakan waktu senggang untuk membuat kerajinan dari bambu tersebut.
Salah satu hasil khas masyarakat yang dijual di pasar pasar tradisional di antaranya keranjang sampah dari bambu, hiasan dinding dari bambu,lampion dari bambu, tempat kue dari bambu dan berbagai hiasan atau benda rumah tangga lain. Kerajinan yang dijual tersebut diantaranya dibanderol dengan harga berkisar Rp10.000 untuk hiasan dinding hingga alat rumah tangga dan hiasan lain berukuran besar dan membutuhkan proses pembuatan rumit yang bisa seharga Rp200.000. Khusus untuk plafon dan geribik bambu bermotif bambu sebagian besar pengrajin bahkan mematok dengan harga Rp150.000 per meter sementara untuk geribik biasa polos tanpa motif bisa dihargai Rp100ribu per lembar.
Salah satu kendala yang dihadapi para pengrajin bambu yang ada di Pringsewu diantaranya soal bahan baku bambu dan juga pemasaran produk. Ansori mengungkapkan saat ini sebagian besar pengrajin bambu selain mengerjakan kerajinan bambu berdasarkan pesanan juga memilih membuat anyaman bambu yang cepat laku dijual. Ia mencontohkan pembuatan irig,kalo,tampah sebagian merupakan pesanan dari pengepul penjual di sejumlah pasar karena permintaan akan alat alat tersebut masih cukup tinggi di wilayah pedesaan untuk keperluan rumah tangga dan keperluan petani.
“Petani juga sangat banyak memerlukan tampah terutama saat musim panen, caping serta alat alat pertanian lain sehingga permintaan selalu tinggi namun untuk kerajinan untuk hiasan permintaan masih rendah sehingga hanya dijual ditoko souvenir atau saat ada pameran pembangunan,” ungkap Ansori.
Alar alat rumah tangga yang dipesan oleh pengepul biasanya dibeli dengan sistem panjar, dengan uang Rp500.000. Pengrajin diminta membuat sejumlah barang,jika lebih maka uangnya akan ditambah oleh sang bos,sementara jika kurang maka akan ditambah dengan membuat dalam jumlah banyak. Sistem tersebut menurut Ansori telah membantu perekonomian warga yang sebagian merupakan petani sekaligus pengrajin. Ia bahkan mengaku pengerjaan secara intens masih dilakukan oleh sebagian masyarakat yang juga memiliki kesibukan lain belum lagi ditambah kendala semakin berkurangnya bahan baku bambu.
Faktor berkurangnya bahan baku bambu diantaranya semakin banyaknya lahan bambu yang diubah menjadi pemukiman dan semain sedikit warga yang membudidayakan bambu. Selain itu permintaan bambu saat ini bukan hanya untuk kerajinan melainkan untuk penopang pembuatan konstruksi bangunan walet, bangunan bertingkat yang semakin banyak di Pringsewu.
Source https://www.cendananews.com https://www.cendananews.com/2016/11/ekonomi-kreatif-di-pringsewu-kawasan-seribu-bambu.html
Comments
Loading...