Kerajinan Batik Cap Di Laweyan, Solo

0 326

Kerajinan Batik Cap Di Laweyan, Solo

Batik sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Hampir semua orang memiliki dan pernah mengenakan batik. Tapi diantara mereka masih ada yang belum mengetahui siapa saja yang terlibat dalam proses pembuatan batik. Pengrajin cap atau pembuat stamp merupakan salah satu bagian awal dalam proses pembuatan batik. Mereka memiliki posisi penting dalam ikut merancang motif batik, namun selama ini jarang disebut. Ironisnya mereka tak punya ruang tawar untuk menarik keuntungan yang menggembirakan.

Sebuah karya seni cap batik hanya dihargai Rp 300.000 sampai Rp 1.000.000. Setelah barang di tangan pemesan yakni pengusaha batik, bisa dipakai berulang-ulang untuk membuat batik. Batik yang dihasilkan terus memberikan keuntungan dan keuntungan. Lewat cap penggandaan batik lebih cepat bisa dilakukan.

Agus S Sunarto adalah pengrajin stamp desain batik yang masih bertahan. Ia menampung 8-10 orang di kampung Premulung Rt 01 Rw 07 Sondakan Laweyan Solo. Sebanyak 8-10 pengrajin yang bekerja sudah berusia di atas 55 tahun. Salah satunya, Wiryo Sentono yang sudah 65 tahun.

Untuk membuat satu cap ukuran kecil dibutuhkan waktu sampai 4-6 hari. “Kalau motif batiknya rumit tentu lebih lama,” kata Agus. Dalam satu bulan ia bisa membuat cap 70-100 buah. Selain Solo, cap batik dipesan dari Pekalongan, Jember, Yogyakarta, Jepara dan kota yang lain.

Agus dikenal pengrajin yang bisa menjaga originalitas motif batik pemesan. Ketika tengah sepi orderan, ia kadang harus ngalah dengan pekerjaanya. Misanya, ada pesanan senilai Rp 900.000 ia hanya mengambil Rp 200.000 sedang Rp 700.000 lainnya untuk yang mengerjakan. Ini sebagai upaya menjaga kualitas dan kesinambungan hidup pengrajin cap. Ini cara Agus melestarikan batik.

Source http://krjogja.com http://krjogja.com/web/news/read/54383/Pengrajin_Cap_Batik_yang_Terlupakan
Comments
Loading...