Kerajinan Batik Di Makassar

0 360

Kerajinan Batik Di Makassar

Hari bekerja sebagai dokter gigi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa. Namun semangatnya mengembangkan industri batik bermotif khas masyarakat Sulawesi Selatan terus menggelora.
Melalui batik, ia pun pun berharap budaya masyarakat Sulawesi Selatan kian dikenal luas di dalam maupun di luar negeri. Alasannya batik tak hanya disukai warga Indonesia, tapi juga kian dilirik masyarakat di luar negeri.
Itulah sosok drg Andi Ayu Sartika, warga Jl Pengayoman, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. Bagi ibu dua putri ini, jalan untuk mencapai keinginannya itu bukan khayalan. Melainkan sedang dirintisnya dengan membuka Istinana Batik sejak 2011 lalu.
Istinana Batik ini memproduksi batik-batik khas budaya empat etnis besar di Sulsel yakni Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar. Di antaranya ada yang bemotif keris, Rumah Tongkonan, dan pasapu. Ada juga motif rumah adat Bugis-Makassar, perahu pinisi, Balla Lompoa, Solokoa, Kupu-kupu Maros, dan gambar Pulau Sulawesi hingga motif kontemporer.


“Idenya berawal saat melihat maraknya pegawai kantor yang berpakaian batik pada hari Jumat. Tapi saya melihat batik-batik mereka semua bermotif budaya Jawa. Saat itulah terlintas ide membuat batik dengan motif khas budaya Sulsel,” tutur Ayu yang ditemui di Private Care Centre RSUP dr Wahidin Sudirohusodo, Makassar, 20 Mei 2013 lalu.

Untuk mewujudkan ide itu rupanya tak mudah. Ia pun harus mencari informasi langsung ke salah satu pusat industri batik yang ada Cirebon, Jawa Barat. Lalu memboyong beberapa pembatik dari Cirebon ke Makassar pada 2011 lalu. Juga memesan bahan baku pewarna dan peralatan pembuatan batik langsung dari Cirebon untuk dibawa ke Makassar.
“Karena terus terang, mencari pembatik dan bahan baku pewarna, dan lilin untuk mencanting batik masih sulit ditemukan di Sulsel. Kalau motifnya, saya sendiri yang carikan. Tinggal dimodifikasi. Sebagai tahap awal, saya merasa ini baik dilakukan sembari menyiapkan pembatik lokal nantinya,” tutur lulusan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Trisaksi ini.
Istinana Batik kemudian berdiri di Antang, Kecamatan Manggala. Lalu pada April 2012 pindah di Komplek Mawar Blok A20, Jalan Pengayoman, Makassar.
Hasilnya? Menggembirakan. Pasalnya, batik khas Sulsel yang diproduksi Istinana Batik tersebut akhirnya mendapat sambutan positif. Buktinya, jumlah pemesan batiknya terus bertambah. Kini, produksi mereka pun sebulan sebanyak 250 kain batik. Satu kain batik berukuran standar standar 225 X 115 cm. Ukuran ini bisa untuk  satu baju batik orang dewasa.
Harganya beragam. Mulai Rp 150 ribu hingga Rp 2 juta per kain. Harganya tergantung jenis kain, warna, dan motif yang diinginkan. Makin banyak warna, maka harganya makin mahal. Karena makin banyak kali celup dan proses lama.
Source http://anak-kolaka.blogspot.com http://anak-kolaka.blogspot.com/2013/05/dokter-gigi-pengrajin-batik-khas-sulsel.html
Comments
Loading...