Kerajinan Batik Ecoprint Di Papar

0 113

Kerajinan Batik Ecoprint Di Papar

Batik buatan Hardini saat dilihat memang beda. Warnanya lebih lembut. Bukan warna ngejreng seperti khasnya batik Jawa Timuran. Salah satunya kain batik yang masih tersisa dan ditunjukkan Hardini. “Warnanya memang seperti ini. Kata orang puyeh. Memang warnanya warna alami,” tutur pemilik nama lengkap Hardini Sumimarsih ini. Tak hanya warna, yang membuat berbeda batik itu adalah coraknya. Benar-benar mirip dengan daun asli. Ada daun jati, daun cemara, daun lanangan, daun ketepeng hingga daun johar. Ini tak lain karena memang daun-daun itulah yang dijadikan cetakan. “Ini namanya teknik eco print,” terang ibu tiga anak ini.

 

Si pemilik usaha, Hardini mengaku tidak menyangka bisa terjun ke bidang seni, apalagi menjadi seorang pembatik. Mengingat, dia seorang akuntan. Hanya saja, karena permintaan sekolahnya SMPN 1 Papar, dia akhirnya menjadi guru kesenian. “Sekitar tahun 2007 saya baru tergerak untuk mempelajari seni, karena saat itu saya kebetulan dikirim Jakarta untuk mengikuti pelatihan K13 (kurikulum 2013),” tuturnya.

Saat mengikuti pelatihan itulah, dia merasa paling awam dibanding rekan-rekannya yang memang memiliki dasar seni. Lantas ia bertekad untuk menguasai, setidaknya salah satu bidang seni yaitu kesenian batik. “Saya lantas belajar membatik di (Batik) Suminar,” jelasnya.

Selesai belajar, dia pun berusaha membuka usaha batik hingga mendapat pesanan. Sampai akhirnya pada 2017, merasa persaingan batik kian ketat, dia berusaha berkreasi dengan membuat batik dengan teknik eco print. “Awal mulanya hanya coba-coba saja, namun tiba-tiba ada yang mengajak pelatihan pembuatan eco print di Bogor,” ungkap Dini.

Seperti namanya, eco printing adalah teknik cetak yang memanfaatkan pewarna alami. Teknik ini prosesnya sederhana dan tidak melibatkan mesin atau cairan kimia. Untuk proses pembuatan sendiri terdapat empat tahapan.

Proses pertama mordanting atau pengolahan kain. Tujuannya agar pori-pori pada kain bisa terbuka dan menyerap warna. Setelah itu, dilanjutkan proses kedua yaitu penempelan materi. Materi yang ditempelkan merupakan daun-daunan, bisa menggunakan daun jati, daun johar,daun ketepeng, dan daun lanang. Daun atau bunga ditata di selembar kain. Setelah itu digulung di sekeliling batang kayu.

Setelah ditempelkan, tidak lupa ditekan dengan menggunakan palu. Penekanan ini harus hati-hati agar daun tidak hancur. Tidak lupa dijemur agar semakin terikat.

Setelah itu, dilanjutkan proses selanjutnya berupa pengukusan. Waktunya sekitar tiga jam. Setelah itu baru dilakukan pencucian dengan menggunakan air tawas.

Setelah itu, jika ingin dilakukan pewarnaan, dilakukan teknik penguncian agar warna daunnya lebih menonjol. Caranya dengan menggabungkan dengan kain yang memiliki warna yang diinginkan dan setelah itu dilakukan pengukusan lagi.

Proses pewarnaan ini tetap menggunakan bahan-bahan alami. Seperti daun jati, daun teger, daun jalawe, daun mahoni, dan kulit manggis. Dari bahan-bahan tersebut dapat menghasilkan warna-warna yang alami, sesuai dengan warna yang diinginkan.

Source https://radarkediri.jawapos.com https://radarkediri.jawapos.com/read/2018/08/14/92763/hardini-guru-kesenian-yang-kembangkan-batik-eco-print
Comments
Loading...