Kerajinan Batik Ecoprint Di Sleman

0 180

Kerajinan Batik Ecoprint Di Sleman

Pencemaran lingkungan dan kerusakan alam tidak hanya disebabkan oleh pabrik berskala besar, tetapi dapat ditimbulkan oleh usaha kecil. Terutama yang menggunakan bahan sintetis yang tidak dapat diolah oleh alam. Meski dalam beberapa waktu tidak menimbulkan dampak, namun lama kelamaan lingkungan menjadi rusak.

Seperti halnya perusahaan maupun perajin batik, pemanfaatan pewarna alam sintetis dapat menjadi penyebab pemcemaran air dan tanah. Bahan kimia tersebut sulit di pecah (degradasi) oleh mikroorganisme di   alam. Dengan demikian, limbah tersebut perlu diolah sebelum dibuang   ke lingkungan.

Begitu pula bagi perajin batik yang memiliki kepekaan terhadap bahan kimia, pewarna alam menjadi kendala dalam memproses pembuatan batik. Dengan begitu, dibutuhkan pewarna alami yang terbuat dari tanaman baik akar, batang, daun maupun buah yang mengandung tanin.

Hal ini yang memunculkan gagasan Hastin Sholikhah untuk membuat kain   batik yang mampu menarik pembeli namun tidak mencemari lingkungan. Memanfaatkan berbagai macam daun dan dengan proses sederhana, mampu menciptakan kain batik yang indah.

Alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Jurusan Tekstil ini menjelaskan, sebelum membuat batik dari pewarna alam berbahan dasar daun, terlebih dulu mengadakan penelitian dan mencari referensi terkait pewarna alam. “Sekitar tahun 2016 saya melakukan penelitian dan mencari buku perihal pewarna alam serta cara pemanfaatannya,” kata Hastin di kediamannya dusun Jangkang, Nogotirto, Gamping baru-baru ini.

Awal tahun 2017, dengan teknik pewarnaan sederhana mulai membuat kain batik dengan teknik ecoprint. Yakni menempelkan daun pada kain sebagai pewarna sekaligus membentuk motif sesuai daun yang digunakan. Hasilnya, terbentuk kain batik dengan warna natural dan indah.

Dijelaskan, sebelum masuk pewarnaan, kain harus direbus dengan air tawas untuk menghilangkan kanji. Proses ini disebut mordan. Kemudian kain didinginkan, selanjutnya daun penghasil warna ditempelkan sesuai motif yang diinginkan, dapat satu jenis atau lebih. Daun yang digunakan selama ini yaitu daun jati, ekor kucing, jarak dan ketapang. Dapat pula ditambah pewarna lain seperti batang pohon secang, kunyit atau tanaman lain yang mengandung tanin.

Setelah daun disusun, kain digulung dan diikat kuat. Kemudian kain dipanaskan dengan uap air (dikukus) sekitar 1-2 jam untuk mengeluarkan warna dari daun sekaligus membentuk motif. Selanjutnya kain didinginkan dan dibilas menggunakan air tawas agar kotoran dan warna yang tidak meresap ke kain hilang. Langkah terakhir yakni dicuci dengan air bersih dan dikeringkan.

Menurutnya, batik hasil ecoprint ini kini tengah tren dan laku di pasaran. Terbukti, setiap mengikuti berbagai pameran, peminatnya cukup tinggi baik kain belum jadi hingga bahan jadi seperti baju, rok maupun mukena.

Harganya juga bervariasi tergantung bahan dasar dan ukuran. Yakni berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 400.000. “Kain halus atau sutera tentu harganya lebih mahal. Pembeli tinggal pilih sesuai kemampuan dan selera,” imbuh pemilik brand Kaine ini.

Saat ini, dalam memasarkan hasil produksinya mengandalkan cara online dan mengikuti berbagai pameran. Dalam satu bulan, omzet yang diterima sekitar Rp 4 juta-Rp 5 juta tergantung jumlah pesanan.

Source https://www.harianmerapi.com https://www.harianmerapi.com/lifestyle/2017/11/17/1592/batik-ecoprint-diminati-karena-ramah-lingkungan
Comments
Loading...