Kerajinan Batik Karya Pemuda Di Bantul

0 109

Kerajinan Batik Karya Pemuda Di Bantul

Sosok teknopreuneur muda Nova Suparmanto mungkin sudah cukup populer, terutama di kalangan masyarakat Yogyakarta. Segudang prestasi yang ditorehkannya telah memberikan inspirasi bagi kawula muda. Meski demikian, pemuda kelahiran Bantul 24 November 1989 ini tetap bersahaja, tidak berpuas diri dan terus bekerja keras mengembangkan usahanya. Baik di dalam negeri, bahkan ke manca negara. Nova tetap fokus menjalankan usaha andalannya yaitu memproduksi dan menjual Kompor Batik bertenaga listrik dengan merk dagang “ASTOETIK” (Auto-Electric Stove for Batik), dengan bendera PT Putra Multi Cipta Teknikindo (PMCT) yang ia dirikan bersama rekan-rekannya pada 2014. Sambil tetap aktif di berbagai organisasi kepemudan dan kebudayaan. “Sudah sekitar 10ribu kompor batik kami jual sejak awal memproduksi. Ada yang memesan dari wilayah yogya, juga ada yang minta dikirim ke berbagai daerah,” ujar
Nova saat ditemui di rumah tempat usahanya di Desa Tirtonirmolo, Kasihan, Bantu, Yogyakarta. Astoetik merupakan inovasi kompor batik yang menggunakan tenaga listrik, sehingga lebih hemat energi di dibandingkan kompor batik konvensional. Kompor ASTOETIK memiliki variasi produk mulai dari ukuran kecil 80watt hingga 300an watt. ASTOETIK menjadi kompor batik pertama yang menggunakan bahan alumunium sehingga lebih ringan dibanding kompor batik sejenis yang berbahan tanah liat atau besi. “Kalo sekarang sudah banyak yang memproduksi kompor batik sejenis, tapi kita sudah mempatenkan produk kita sebagai HaKI, dan kami juga memproduksinya dengan kualitas kontrol berstandar SNI,” tutur pria yang sudah mengakiri masa lajangnya pada awal 2017 ini.
Konsistensi ASTOETIK menerapkan SNI, membuat Nova selaku CEO PT PMCT, mendapat penghargaan katagori perak dalam SNI AWARD 2017, belum lama. Hal itu membuat Meski menjalankan usaha industri rumahan, teknopreuneur muda ini berdiri sejajar dengan para pemimpin perusahaan besar yang beromzet ratusan milyar hingga triliunan rupiah. Selain terus berinovasi mengembangkan kompor batik, Nova bersama rekan-rekannya juga mendirikan Sanggar dan Toko Batik Astoetik. Sanggar menjadi tempat belajar dan pelatihan membuat batik tulis. Sudah ribuan orang, baik pelajar, guru maupun turis asing yang pernah belajar di sanggarnya.
Sanggar ini menjadi bagian dari strategi marketing untuk mempopulerkan kompor ASTOETIK. Sekaligus mempertahankan tradisi batik tulis yang merupakan kekayaaan budaya bangsa. Guna mempromosikan batik dan kompor ASTOETIK, awal Desember mendatang, Nova dan rekan-rekannya juga akan mengadakan pelatihan membatik di Australia yang difasilitasi oleh rekannya yang tinggal di Australia. “Sebenarnya saya ingin acaranya diadakan tahun depan sekaligus untuk mempromosikan produksi batik kita yang akan dilauching, tapi karena diminta tahun ini ya saya ikut saja,” tutur alumni S1 Univ Negeri Yogyakarta yang tengah berkuliah S2 di UGM ini.
Source https://regional.kompas.com https://regional.kompas.com/read/2017/11/25/14583691/ingin-membawa-batik-mendunia
Comments
Loading...