Kerajinan Batik Kuno Di Yogyakarta

0 294

Kerajinan Batik Kuno Di Yogyakarta

Tak terhitung berapa jumlah motif batik dan jumlah kain batik yang pernah dibuat dari seluruh daerah seantero nusantara saat ini. Batik punya nilai historis yang panjang sejak ratusan tahun lalu. Seorang kolektor batik mengungkapkan rasa gusarnya bahwa batik kuno banyak yang di ambang kepunahan. Hartono Sumarsono, pendiri Batik Kencana Ungu dan Batik Citra Lawas di Yogyakarta mengatakan, batik-batik kuno tersebut bisa punah karena fisik kainnya yang termakan usia. Tidak sedikit batik yang kini tinggal foto seperti di dalam buku karya Hartono yang berjudul Batik Pesisir Pusaka Indonesia.

Ia saat ini tengah sibuk memproduksi ulang corak-corak batik kuno di atas kain batik baru. Misinya, ingin menjaga batik kuno supaya tidak putus sebatas foto di dalam bukunya. Hartono memproduksi ulang batik mulai dari tahun 1870-an sampai 1960-an karya maestro batik dari berbagai daerah. “Saya produksi ulang corak batik tahun 1870-an sampai 1960-an. Asal daerahnya macam-macam ada Garut, Pekalongan, Solo dan lainnya. Termasuk karya maestro batik seperti Metzelaar dan Van Zulyen,” jelasnya.

Hartono kemudian mendekati salah satu kain hasil reproduksi corak batik tahun 1880 yang tengah dipajang dalam pameran tesebut. “Ini karya pembatik Belanda, namanya Carolina Maria Meyer. Corak ini dibuat tahun 1880. Coba kalau nggak diproduksi ulang, hanya akan menjadi ingatan lewat foto. Saya produksi ulang supaya generasi yang akan datang bisa melihat batik motif kuno,” ujarnya. Hartono tidak ingin generasi yang akan datang hanya bisa mendengar atau melihat sejarah batik kuno dari buku saja tanpa pernah melihat batiknya.


Ia mencontohkan Batik Kudus kini orang asli Kudus barangkali belum tentu kenal corak asli Kudus. “Batik Kudus saya yakin banyak yang nggak tahu corak aslinya seperti apa. Batik Kudus itu ciri khasnya sudah nggak ada. Saya perhatikan pernah putus estafet batik Kudus itu. Sekarang cenderung hanya buat batik semata,” kata. Hartono.

Ia ingin agar kain batik bisa dinikmati dari segi seni maupun arti filosofi di balik objek dan simbol yang tertuang. “Di Jawa ada motif Sidomukti yang punya nilai filosofi tinggi. Saya punya seprai batik lawas. Kain itu banyak terlukis objek dan simbol yang punya makna doa dan harapan dari orang tua. Misalnya objek monyet dua itu artinya diharapkan generasi yang akan datang lebih baik dari sekarang. Saya ingin generasi penerus bisa mengerti dan menikmati ini,” tuturnya.

Handoyo tidak membatasi hanya mereproduksi corak asli Indonesia. Sebab menurutnya banyak corak hasil akulturasi budaya Tionghoa maupun Eropa yang bagus-bagus.  “Corak apapun yang bagus saya reproduksi. Khususnya yang saya nilai betul—betul batik ini fisik kainnya sudah nggak ada, itu saya buat. Punah itu karena rusak, hilang atau dimiliki kolektor asing entah di negara mana,” terangnya.

Hartono juga menaruh perhatian pada kain-kain yang melukiskan kisah pewayangan. Kain lainnya yang dipajang yaitu melukiskan tokoh pewayangan dengan cerita perkawinan Arjuna dengan 7 bidadari. “Ceritanya ini Arjuna ditugasi membunuh raksasa sakti mandraguna. Ini batik Pekalongan tapi pembuatnya orang Belanda,” kata Hartono sambil menunjuk kain corak pewayangan koleksinya. Kain batik yang Ia produksi ulang sebagian menjadi koleksi pribadi dan sebagian lainnya Ia jual. Hartono mengaku banyak permintaan produksi ulang batik dari rekan sesama kolektor. “Kalau nggak dijual, ngga tersebar dong. Permintaan reproduksi banyak dari teman yang sama-sama senang batik,” katanya.

Ia membandrol harga kain batik hasil produksi ulang Rp 3-4 juta. Butuh waktu minimal tiga bulan untuk menyelesaikan satu lembar kain batik tulis. “Harganya 3-4 juta. Proses pembuatannya minimal 3 bulan. Semakin detail dan rumit corak batik, makin lama menggarapnya, maka harganya pun mahal. Batik tulis halus butuh waktu lama menyelesaikannya,” tuturnya. Sebetulnya, harga Rp 3-4 juta menurut Hartono tidak sesuai untuk menilai sebuah batik tulis dengan lama pengerjaan tiga bulan. “UMR saja berapa. Satu lembar dikerjakan tiga bulan, harga kain jadinya cuma segitu. Memang kasihan juga pembatik tulis ini. Seorang pembatik handal bayarnya nasih murah. Cuma, kalau itu dibayar mahal, kain batiknya jadi mahal dan ngga ada yang beli. Itu dilema,” ujarnya.

Ia menilai harga batik tulis saat ini masih terlalu murah. Apalagi ada corak kain yang butuh waktu pengerjaan sampai 6 bulan. Menurutnya, batik harus dilihat sebagai karya seorang maestro. Ia pun mengaku masih terbatas mereproduksi corak batik kuno sebab jumlah pembatiknya pun terbatas dan setiap lembar kain butuh waktu pengerjaan yang cukup lama.

Pria yang gemar mengoleksi batik sejak 1980an itu mengaku punya koleksi kain batik tulis kuno mencapai ratusan lembar. “Koleksi lumayan beberapa ratus, sekitar 300an. Paling kuno saya punya tahun 1850an dari Semarang itu batik Lasem,” pungkasnya.

Source https://finance.detik.com https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3034229/kolektor-batik-ini-cetak-lagi-corak-1870-an-yang-hampir-punah
Comments
Loading...