Kerajinan Batik Rumahan Di Desa Cikubangsari

0 100

Kerajinan Batik Rumahan Di Desa Cikubangsari

Kuningan selama ini identik kuliner makanan khas pedesaan, seperti kasreng yang melegenda, hucap, tape ketan dan jeruk nipis peras atau biasa disingkat Jeniper.  Belum ke Kuningan rasanya jika belum makan kuliner-kuliner itu.

Soal batik, tak bnayak yang tahu kalau Kuningan juga memiliki industri batik yang berkualitas tinggi namun belum tersohor. Industri batik di Kuningan bahkan berani disandingkan dengan batik Cirebon.

Jika daerah tetangga itu punya sentra batik terkenal yakni Trusmi, di Kuningan juga terdapat pusat industri batik rumahan. Tampatnya berada di Desa Cikubangsari, Kecamatan Kramatmulya. Batik khasnya memiliki motif kuda.

Menurut penuturan warga sekitar, perajin batik yang menjadi pelopor kebangkitan industri batik Kuningan adalah May Sutisna (45). Walau masih terbilang muda di industri perbatikan, produk May sudah menyebar ke berbagai instansi pemerintah dan lingkungan pendidikan. Ia memulai membatik ‘baru’ tujuh tahun yang lalu.

Niat May memproduksi batik awalnya hanyalah untuk membantu warga sekitar agar bisa bekerja. May saat itu belum mengetahui usaha apa yang ingin ia jalankan. Ia hanya berpikir untuk membuka usaha yang belum ada di Kuningan.

“Kepikiran juga mau buka usaha apa. Lantas saya keliling untuk melihat-lihat usaha rumahan yang sudah jalan. Semuanya produk makanan dan kerajinan. Akhirnya terpikir oleh saya untuk membuat batik khas Kuningan,” kenang May kepada Radar Cirebon.

Memperkenalkan batik di Kuningan bukan perkara mudah, apalagi Kuningan tidak memiliki sejarah industri batik. Namun May tak menyerah. Ia terus memperkenalkan produk batiknya ke instansi pemerintah dan lingkungan pendidikan. Perlahan masyarakat mulai mengenal produknya.

Tak seperti bisnis pada umumnya yang mengenalkan produk lewat jejaring sosial, May justru memilih jalan pameran untuk mengenalkan produk batiknya ke khalayak ramai. Berbagai pameran, baik di Kabupaten Kuningan maupun di luar daerah. Selain itu, May juga rajin menyambangi sekolah-sekolah dengan tujuan memasarkan batik hasil produksinya.

Saking seringnya promosi, akhirnya batik buatan Cikubangsari itu menembus lingkungan pendidikan dan instansi pemerintah. Saat itu Pemerintah Kabupaten Kuningan memiliki program satu hari menggunakan batik dan batik May lah yang terpilih untuk mempercantik penampilan para Pegawai Negeri Sipil itu.

Saat ini, May memilikitiga jenis produk batik, yakni batik tulis, semi tulis dan batik cap. “Tujuannya biar batik buatan Kuningan dengan corak berbeda dikenal pelaku pasar. Saya juga menitipkan batik di toko-toko yang menjual oleh-oleh,” paparnya.

Untuk soal harga, May menjamin jika harga batik yang ditawarkannya terbilang murah. Mulai dari harga IDR75 ribu hingga IDR400 ribu. Dalam sebulan, dirinya bisa memproduksi sebanyak 200 lembar kain batik. Berkat kerja kerasnya menyasar pasar, May bisa meraup omset sekitar Rp 50 juta setiap bulannya.

May mengaku saat ini yang paling banyak dicari adalah batik semi tulis. Semakin berkembangnya batik Cikubangsari memaksa May menambah pekerja, Saat ini tercatat May telah mempekerjakan 18 orang.

Source https://www.yourou.id https://www.yourou.id/blog/2016/12/10/desa-cikubangsari-penghasil-batik-rumahan-yang-tak-seterkenal-trusmi/
Comments
Loading...