Kerajinan Batik Rumahan Di Sukoharjo

0 112

Kerajinan Batik Rumahan Di Sukoharjo

Perajin batik rumahan di Sukoharjo ikut terkena dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sebab bahan obat sebagai campuran untuk produksi batik masih sepenuhnya impor. Akibat kondisi tersebut harga batik ikut mengalami kenaikan seiring naiknya biaya produksi.

Salah satu perajin batik rumahan asal Mojolaban Susanto, mengatakan, perajin batik khususnya untuk pelaku usaha rumahan artinya bukan partai besar pabrik sudah merasakan dampak akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar sejak sebelum dan sesudah Lebaran atau Juni lalu. Dampak dirasakan karena saat itu nilai tukar rupiah mulai menunjukan pelemahan yang berakibat naiknya harga obat sebagai campuran untuk produksi batik.

Perajin mendapatkan obat tersebut dari pasar impor dan pembeliannya memang sangat terpangaruh dolar. Meski berat namun perajin tetap membeli karena harus terus berproduksi.

Untuk menyiasati beratnya biaya produksi membuat perajin batik rumahan terpaksa menaikan harga sekitar 10 – 20 persen sejak Juni lalu. Namun harga tersebut sekarang kembali dinaikan sekitar 30 – 40 persen karena menyesuaikan kondisi terakhir semakin lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

“Biaya produksi sekarang naik pada kisaran 30 – 40 persen dari biasanya karena pengaruh naiknya harga obat campuran batik yang dibeli impor. Kenaikan terjadi dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah,” ujar Susanto.

Susanto mengatakan, setiap tahun perajin batik rumahan selalu merasakan dampak dari kondisi ekonomi dunia dengan adanya kenaikan dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada produksi perajin batik tulis rumahan. Sebab modal yang mereka miliki terbatas dan kalah bersaing dengan pabrik batik besar.

Kendala juga dihadapi perajin batik rumahan karena alasan pemasaran dan sepinya penjualan. Sebab mereka masih mengandalkan cara lama dengan memasarkan melalui pasar dan pembeli lokal. Para perajin tersebut kalah jauh dibandingkan pabrikan besar yang sudah menjual sampai ke luar negeri.

“Meski serba sulit namun perajin batik rumahan tetap berproduksi. Karena selain untuk menghidupi keluarga juga melestarikan tradisi budaya jawa,” lanjutnya.

Perajin batik asal Kecamatan Sukoharjo Kota Agus Samio mengatakan, dampak kenaikan atau melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar selalu terjadi setiap tahun. Siklus tahunan tersebut sudah sering dihadapi para perajin batik sehingga mereka sudah hafal. Perajin batik harus selalu siap dalam menghadapi situasi seperti tersebut dengan melakukan berbagai cara agar usahanya tetap bisa berjalan.

“Kalau pesanan eceran pasti terasa sekali dampak kenaikan harga batik dibandingkan partai besar akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar,” ujarnya.

Terkait kondisi sekarang perajin batik rumahan sangat merasakan sekali dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Sebab mereka mengejar omset penjualan untuk menutup besarnya biaya produksi.

“Kenaikan harga produksi yang berimbas pada naiknya harga batik tentu berdampak pada penjualan karena mengalami penurunan,” lanjutnya

Source https://www.harianmerapi.com https://www.harianmerapi.com/news/2018/09/16/34170/perajin-batik-rumahan-keluhkan-kenaikan-biaya-produksi
Comments
Loading...