Kerajinan Batik Salem Di Brebes

0 179

Kerajinan Batik Salem Di Brebes

Presiden Joko Widodo secara khusus meminta tim Badan Ekonomi Kreatif ke Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, untuk membantu masyarakat di Kecamatan Salem membuatkan produk inovatif dan kreatif batik. Memang nama batik salem di telinga khalayak luas masih belum setenar batik asal Solo, Yogyakarta, atau Pekalongan. Batik produksi itu pun masih sebatas industri rumah tangga.

Namun, siapa sangka batik buatan masyarakat Desa Bentar dan Bentarsari, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, tersebut mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki batik mana pun di daerah lain yang memang sudah dikenal sebagai sentra batik.

Maestro sejarawan di Kabupaten Brebes, Atmo Tan Sidik, menuturkan asal-muasal kemunculan batik Salem mulai sekitar awal 1900-an lalu. Menurut sejarah yang diungkapkan para sesepuh setempat, tepatnya pada 1917.

Pada saat itu, seorang putri pejabat dari Pekalongan mengunjungi daerah Salem. Saat berkunjung itulah, sang putri jatuh hati kepada seorang pemuda di sana.

Singkat cerita, mereka berdua pun akhirnya menikah dan menetap di Desa Bentar. ‎Sang puteri dari Pekalongan itulah yang mulai mengajarkan kerajinan batik di sana.

Lambat laun setelah sang putri mulai ‎mengenalkan batik, masyarakat di Salem, terutama kaum wanita, mulai memahami dan minat dengan kerajinan batik tersebut.

“Dari sejak awal mula kerajinan batik di sana, memang kaum wanita atau ibu rumah tangga yang minat dan mau belajar, sehingga mau menguasai keterampilan batik,” ucap Atmo Tan Sidik di Brebes, Jateng, Sabtu, 23 Oktober 2016 di sela-sela Pameran Desain Produk Pameran Desain Produk Inovatif dan Kreatif Kolaborasi Nusantara (IKKON) Brebes.

‎Meskipun termasuk di wilayah Jawa Tengah, hampir sebagian besar masyarakat di Kecamatan Salem menggunakan bahasa Sunda untuk berinteraksi satu sama lain.

Memang Kecamatan Salem sendiri berada di paling barat di Kabupaten Brebes yang berbatasan langsung dengan Kuningan, Jawa Barat.

“Interaksi masyarakat di sana memang menggunakan bahasa Sunda sejak dulu. Jadi kalau ngomong Jawa sulit dipahami, dan kebanyakan kalau kesulitan jika ada warga yang datang. Warga setempat menggunakan bahasa Indonesia,” dia menambahkan.

Para perajin batik di Kecamatan Salem memang masih berskala rumah tangga. Sehingga tidak sama dengan perajin batik dari Yogya, Solo, ataupun Pekalongan yang kini sudah dikelola secara industrial.

Perajin di Kecamatan Salem, para ibu di sana membuat batik hanya untuk mengisi waktu luang selesai melakukan tugas rumah tangga. Sedangkan, sebagian lainnya para ibu yang membatik sambil menunggu warung ataupun kios di depan rumah mereka.

“Di sana itu, para ibu perajin batik dilakukan di sela-sela waktu luang saja. Jadi memang hasil produksinya tidak banyak. Namun, kualitas nya bisa dibandingkan dengan batik dari daerah lainnya,” kata dia.

Source https://www.liputan6.com https://www.liputan6.com/regional/read/2636077/batik-salem-yang-mencuri-perhatian-jokowi
Comments
Loading...