Kerajinan Batok Di Semarang

0 389

Kerajinan Batok Di Semarang

Widiarto yang biasa disapa Widi Batok warga Desa Deresan RT 1 RW 5, Susukan, Kabupaten Semarang layak diacungi jempol. Sebagai penyandang disabilitas, ia enggan menyerah oleh keadaan. Hampir tujuh tahun belakangan, dirinya mengubah limbah kelapa menjadi rupiah.

Limbah kelapa berupa batok yang oleh orang kebanyakan, di tangan Widi diolah menjadi berbagai barang kerajinan tangan dengan harga jual mencapai Rp 50.000 hingga Rp 500.000. Berkat kepiawaiannya tersebut, ia mampu hidup layak seperti galibnya orang normal lainnya.

Menurut Widi, dunia perbatokan sebenarnya baru ia kenal tahun 1998, tepatnya usai tumbangnya orde baru. Di mana, setahun sebelumnya dirinya mengikuti pelatihan di Rehabilitasi Centrum (RC) Kota Surakarta. Oleh para pengajar, berbagai materi ketrampilan mau pun kesenian saban hari diajarkan. “Kebetulan saya berminat pada kesenian dan kerajinan tangan berbahan limbah,” jelasnya.

Untuk memoles batok kelapa menjadi beragam souvenir, Widi memperoleh bahan baku dengan cara membeli seharga Rp 5.000 perkarung kecil. Selanjutnya, limbah kelapa disortir. Batok yang utuh disendirikan, sedangkan yang pecahan diolah jadi asesoris pendukung. Material keras itu, oleh Widi dibentuk menjadi lampu gantung, lampu hias hingga kapal- kapalan.

Guna mendukung aktifitasnya, Widi menggunakan peralatan seperti bor, gerindra, aplas dan pelitur. Di mana, setelah beragam hasil produksinya telah jadi, selanjutnya difinishing untuk disetorkan pada pemesan. “Setiap barang yang saya produksi, semuanya bersifat limited edition. Jadi, satu dengan lainnya tak bakal sama,” tuturnya.

Source Kerajinan Batok Di Semarang Kerajinan Batok Di Semarang
Comments
Loading...