Kerajinan Batok Kelapa Di Aceh Barat Daya

0 297

Kerajinan Batok Kelapa Di Aceh Barat Daya

Kondisi fisik tak membuatnya berpangku tangan. Melalui tangannya, batok-batok kelapa menjadi barang kerajinan bernilai tinggi. Tangan kanan dan kaki kiri pria itu tak sempurna akibat kecelakaan tujuh tahun lalu. Tapi dari keterbatasan itu ia kini dapat melahirkan kerajinan tangan menarik. Modal utamanya hanya batok kelapa. Mulyadi Pakeh, pria itu, kini dikenal sebagai pembuat kerajinan dari batok kelapa di Gampong Kepala Bandar, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya.

Lelaki yang akrab disapa Adi itu mulai berkreasi sejak dua tahun lalu. Awalnya ia hanya menggunakan batok kelapa untuk membuat vas bunga. Tak disangka, kreasinya itu menarik minat orang-orang. Adi mulai menerima banyak permintaan membuat vas dari batok. Sesekali ia juga membuat bunga dari koran bekas. Namun, setelah banyaknya permintaan, kini ia tak lagi membuat bunga dari koran.

Ia kemudian mulai mencoba bentuk-bentuk lain, tak hanya vas. Adi pun googling, mencari tahu di internet. Dari situ ia membuat celengan, asbak, teko air, cangkir, dan lampu hias dari batok kelapa. Pekerjaan mengolah batok kelapa menjadi barang kerajinan menarik dilakukan Adi sembari berjualan di depan rumahnya.

Menurut pria kelahiran 1978 ini, kebutuhan bahan baku batok kelapa tercukupi dari lingkungan sekitarnya. “Tinggal ambil saja, banyak yang tidak membutuhkan batok di sekitar sini,” ujarnya. Selain batok, bahan dan alat yang dibutuhkan Adi adalah lem kayu, amplas, cat plitur, kuas dan gerinda. Alat terakhir ini digunakan untuk memotong batok.

Batok-batok yang digunakan harus bersih dari serabut. Setelah batok dipotong dengan gerinda, Adi tinggal mengkreasikannya sesuai bentuk yang diinginkan. Tak lupa, setiap batok itu dipernis agar lebih menarik.

Lama proses pembuatan tergantung setiap jenis produk. Untuk membuat cangkir, teko, celengan, dan asbak, Adi cuma butuh waktu sehari hingga selesai sempurna. Sementara vas bunga dan lampu hias butuh waktu tiga hari.

Harga setiap kerajinan juga berbeda-beda. Lampu hias besar dijual Adi Rp270 ribu. Sedangkan lampu hias kecil dihargainya Rp170 ribu. Sementara vas bunga Rp270 ribu, teko Rp60 ribu, asbak Rp30 ribu, celengan Rp30 ribu dan cangkir Rp17 ribu.

Adi tidak menjual produk-produk itu ke pasar. Ia hanya mengandalkan promosi dari mulut-mulut. “Awalnya, jika ada anak sekolah yang butuh mereka membelinya ke saya. Yang paling banyak beli produk ini dari instansi pemerintah di Aceh Barat Daya,” ujarnya.

Apa yang dilakukannya memang telah memantik perhatian Pemerintah Aceh Barat Daya. Adi mengaku dibantu alat berupa mesin kompresor, gerinda, dan bor. Namun, ada beberapa alat lain yang masih dibutuhkannya seperti mesin ukir. Mesin yang harganya mahal ini disebut Adi dapat memperingkas pekerjaannya.

Source http://www.bppauddikmasaceh.id http://www.bppauddikmasaceh.id/berkreasi-lewat-batok-kelapa/
Comments
Loading...