Kerajinan Besek Di Banyuwangi

0 296

Kerajinan Besek Di Banyuwangi

Jari-jari para ibu-ibu Kelurahan Papring, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, terlihat lincah menganyam bilahan bambu menjadi kerajinan besek dan gedek. Besek, merupakan kerajinan yang biasanya digunakan untuk tempat menaruh buah dan olahan jajanan tape singkong. Sedangkan gedek, merupakan dinding rumah tradisional dari anyaman bambu.

Menjadi seorang pengrajin besek dan gedek, ada beragam proses yang harus dituntaskan. Mulai menebang bambu, memotong, membelah menjadi irisan tipis, dijemur, direndam, baru kemudian dianyam. Dari serangkaian proses membuat kerajinan tersebut, ada pekerja yang hanya memotong bambu dan menganyam. Tergantung untuk siapa dia bekerja. Ada yang bekerja untuk diri sendiri sampai karyanya dijual. Ada juga yang bekerja kepada orang lain, misalkan sebagai buruh menganyam bambu untuk menjadi gedek dan besek.

Suida, salah satu buruh perempuan menganyam gedek, sudah menekuni kerajinan tersebut sejak tahun 1990-an, saat dia masih belum menikah. “Kalau saya buruh menganyam saja. Selesai menganyam satu buah gedek ini upahnya Rp 17 ribu. Ada yang Rp 20 ribu, tergantung lebar bilahan,” ujar Suida kepada Merdeka Banyuwangi, beberapa waktu lalu sambil menganyam di rumahnya.

Menjadi pengrajin gedek, kata Suida, dibutuhkan ketelatenan dan hati-hati dalam bekerja. Jika tidak, lapisan luar kulit bambu yang menjadi bahan, tiap lembarnya bisa mengiris tangan. Saat ditemui di halaman rumahnya sekitar pukul 20.00 WIB, Suida masih terlihat sibuk menganyam. Dia mengatakan, tiap harinya biasa mulai menganyam pukul 07.00-13.00 WIB. Sedangkan saat malam, seringkali dimulai pukul 18.00-23.00 WIB. Dalam sehari, Suida bisa menganyam gedek sampai satu buah, dengan ukuran 3×4 meter. Bila buruh menganyam saja mendapat Rp 17 ribu, saat dijual ke pasaran, satu lembar anyaman gedek bisa laku Rp 85-100 ribu.

Pekerjaan menganyam ini, kata Suida memang lebih banyak dikerjakan oleh para perempuan, mulai yang muda sampai Ibu-ibu rumah tangga. Sedangkan pihak laki-laki, kebagian kerja memotong bambu, mengangkut sampai proses pembelahan. Ada juga yang langsung menjual bambunya saja sampai dalam bentuk bilahan siap dianyam.

Sunawi dan Suida, malam itu terlihat saling membantu. Dengan penerangan lampu neon, keduanya akan menuntaskan satu lembar gedek sampai pukul 22.00 WIB.

“Kalau saya buat sendiri. Ukuran 25X25 Cm. Per biji harga jualnya Rp 800,” ujarnya.

Sedangkan untuk upah buruh menganyam besek, kata Sunarti per seratus besek dihargai tujuh ribu lima ratus. Artinya per bijinya, diharga Rp 75.

Dalam sehari, Sunarti seringkali membuat sampai 50 besek. Pekerjaan ini, sudah dia kerjakan sejak usia 13 tahun. Menurutnya, saat dia masih remaja, hampir semua warga Papring membuat kerajinan gedek dan besek. Namun saat ini hanya tersisa beberapa saja.

Source https://banyuwangi.merdeka.com https://banyuwangi.merdeka.com/info-banyuwangi/menengok-perajin-gedek-dan-besek-di-banyuwangi-161026t.html
Comments
Loading...