Kerajinan Bidai Di Bengkayang

0 100

Kerajinan Bidai Di Bengkayang

Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat terkenal dengan hasil kerajinan berupa bidai atau tikar, namun kerajinan ini akan terancam punah lantaran bahan baku untuk membuatanya berupa rotan sudah langka didapat. “Susah sekarang cari rotan. Sebelum-sebelumnya kita membeli dari Kalteg namun sekarang sudah sulit mendapatkanya karena di sana rotan juga mau habis,” ujar satu di antara pengrajin bidai asal Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Basiran.

Menurut pria yang memulai usahanya sejak sepuluh tahun ini, untuk pengrajinnya sendiri di Bengkayang masih banyak yang mahir sebab itu dari turun temurun diajarkan kepada generasi selanjutnya. Namun kembali lagi disampaikanya dengan keterbatasan bahan baku tidak menutup kemungkinan ke depan pengrajin yang ada akan mulai hilang. “Untuk tenaga penganyam kita banyak. Seberapapun bahan baku ada maka penganyam akan berdatangan. Namun sekarang masalahanya di bahan baku” kata pengrajin sekaligus pengusaha bidai di Jagoi Babang.

Dia menambahkan, apabila bahan dan bidai ada, tidak sulit untuk melakukan pemasarannya. Menurutnya banyak pembeli yang memesan jauh hari dan memberikan uang muka terlebih dahulu. “Kalau bahan ada, kami akan kewalahan untuk mengerjakan pesanan,” katanya.

Dengan kelangkaan rotan tersebut, dia meminta pemerintah untuk mencari jalan keluar agar rotan tetap tersedia. “Alangkah baiknya, pemerintah melakukan penanaman rotan dengan mengajak masyarakat dan  ini perlu digalakkan,” katanya.

Selama ini, pihakya mengandalkan pasokan bahan baku berupa rotan dari Kalimantan Tengah. Harganya lebih mahal ketimbang dulu, ketika pada bahan baku rotan masih melimpah di Seluas dan Jagoi Babang. Satu ikat rotan harganya Rp140 ribu. Sementara untuk membuat bidai sendiri butuh 1,5-2 ikat rotan. Belum lagi bahan baku lain seperti kulit kayu kepuak, pewarna alami, dan bahan lainnya. Satu tikar bidai dikerjakan oleh 2-3 orang.

Basiran dan kawan-kawannya membentuk satu kelompok untuk produksi dan penjualan bidai. Mereka terdiri dari sembilan orang. Dalam satu minggu mereka mampu memproduksi sekitar 6-8 tikar bidai. Untuk tikar bidai, Basiran dan kawan-kawannya membuat tiga ukuran, ukuran kecil dengan lebar 1,5 m x panjang 2,10 ukuran sedang 1,8 m x 2,7 m dan ukuran besar 2,1 m x 3 m. “Selain tikar bidai, kita juga membuat beragam kerajinan lain seperti sajadah dan tikar,”katanya. Pasar tetap mereka adalah para pengepul di Pasar Serikin, Serawak. Tak jauh dari Jagoi Babang. Harganya sekira Rp700-800 ribu per bidai ukuran terbesar.

Pembuatan anyaman tikar bidai itu sendiri bisa memakan waktu lama, karena dari proses penjemuran hingga anyamannya memang tak mudah. “Berbagai alat anyaman itu memang kalau dilihat hanya biasa saja, asal tahu kegunaannya, tapi anyaman tersebut memiliki cerita dan sejarah yang panjang dan harus di jaga kelestariannya. Karena zaman dulu lebih bersahabat dengan alam, dan belum ada alat-alat untuk kebutuhan rumah tangga,” jelasnya.

Source https://www.pontianakpost.co.id https://www.pontianakpost.co.id/melihat-pengrajin-bidai-di-jagoi-babang
Comments
Loading...