Kerajinan Bingkai Kacamata Kayu Di Desa Benowo

0 126

Kerajinan Bingkai Kacamata Kayu Di Desa Benowo

Nama Benowo Wetan, di Desa Ngringo, adalah sebuah dusun wilayah Kab. Karanganyar di timur Kota Solo yang dipisahkan Sungai Bengawan Solo. Di dusun itu, sekelompok anak muda membuat kerajinan bingkai kacamata dari bahan kayu yang saat ini menjadi salah satu fashion yang digandrungi banyak orang di Amerika, Eropa, Korea dan lain-lain.

Bingkai kacamata dari kayu yang menggunakan merk dagang “East Wood” dan logo “EW” itu, tidak diproduksi di pabrik dengan mesin modern, tetapi dikerjakan para perajin kecil Dusun Benowo Wetan, Desa Ngringo, Kab. Karanganyar.

Di bengkel kerja yang sempit dan nyempil di sebuah rumah, Dusun Benowo Wetan RT 04 RW 08, Desa Ngringo, hampir sepanjang hari berdesing bunyi mesin bor, mesin amplas, gerinda dan lain-lain. Sebanyak tujuh orang muda yang mengoperasikan mesin-mesin itu, dengan teliti memotong bermacam-macam kayu bingkai kacamata yang terdiri dari berbagai model.

Sosok anak muda yang pertama kali menggeluti kerajinan bingkai kacamata kayu itu adalah Agung Sarwanto. Lelaki kelahiran 8 Juni 1981 itu, adalah salah seorang di antara para perajin yang menghasilkan karya kerajinan yang diburu orang-orang penggemar fashion.

Agung bersama kakaknya, Suranto, selama tiga tahun menekuni pekerjaan sebagai perajin bingkai kacamata kayu. Mereka tidak ingat lagi, berapa ribu pasang persisnya bingkai kacamata yang sudah dihasilkan.

Selama tiga tahun lebih membuat kerajinan bingkai kacamata, hasil karya perajin desa itu selain banyak menghias etalase-etalase mal bergengsi di kota-kota metropolitan, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali dan sebagainya, juga banyak dijual secara online oleh para pedagang. “Saya tidak mencatat berapa buah kacamata yang pernah saya buat. Karena jumlah pesanan tidak tentu, terkadang sampai 200-an pasang tiap bulan,” ujar Agung Sarwanto.

Sejak pertama membuat bingkai kacamata kayu, Agung bersama kakaknya Suranto dan kelima temannya, sudah membuat belasan macam model kacamata, baik untuk konsumen lelaki maupun perempuan. Di antara model yang paling banyak digemari adalah Dexter yang sedang trend dan digemari lelaki maupun perempuan.

Hasil karya kerajinan bingkai kacamata kayu yang artistik karya tangan kakak beradik Agung dan Suranto bersama rekan sekerjanya, memang banyak digandrungi para penggila fashion kacamata. Namun para perajin desa itu tidak secara langsung bisa menikmati keuntungannya. Sebab, ribuan pasang bingkai kacamata karya para perajin tersebut saat ini harus disetor ke seorang pedagang di Kota Solo. Agung dan kawan-kawan pun tidak tahu, berapa bingkai kacamata karyanya dijual dan diekspor, meskipun dia tahu harga kacamata berbingkai kayu di toko-toko mencapai Rp 500.000,- per pasang.

“Saya dengan kakak saya Suranto mendapat upah, setiap minggu Rp 1 juta. Kawan-kawan lain dibayar dengan upah harian. Itu disebabkan kacamata kayu yang saya buat merupakan pesanan sehingga saya masih tergantung kepada pedagang,” ungkap Agung lagi.

Setiap hari, Agung Sarwanto dan kawan-kawan bisa merampungkan antara 5 – 7 pasang bingkai kacamata yang dikerjakan tujuh orang. Membuat kerajinan kacamata sekilas tidak rumit, namun membutuhkan ketelitian ekstra. Pekerjaan dari memotong kayu yang sudah berpola menggunakan peralatan laser, menghaluskan kayu yang berbentuk kacamata, memasang engsel, merangkai kacamata sampai menyetel agar nyaman dipakai, harus dilakukan secara hati-hati.

“Kesulitannya, kayu yang tipis dan dalam keadaan kering mudah patah. Sehingga harus hati-hati dan teliti. Apalagi untuk memasang engsel untuk kacamata model Amerika, lebih sulit lagi,” ujar Suranto.

Pekerjaan sebagai perajin bingkai kacamata kayu itu, kata Agung lagi, bukan hanya memotong-motong kayu dan menghaluskannya. Tetapi Agung mengerjakan mulai dari mencari bahan kayu bekas berupa kayu jati, sonokeling, mahoni dan sebagainya di industri mebel, membuat pola di salah satu perusahaan desain grafis yang melayani teknologi laser, sampai tahap finishing dikerjakan para perajin tersebut. Sedangkan para pedagang dan eksportir menerima hasil karya kerajinan itu dalam bentuk jadi.

Dalam upaya melepaskan diri dari ketergantungan kepada pedagang dan eksportir tersebut, kakak beradik Agung Sarwanto-Suranto bertekad suatu saat bisa mandiri. Namun keduanya bersama rekan-rekan sekerjanya, merasa keinginan itu tidak mudah dan berat, karena memerlukan kemampuan manajemen yang memadai dan modal uang banyak. Sebab, mereka selain harus memiliki peralatan kerja yang lengkap, termasuk alat pola laser dengan teknologi komputer yang harganya ratusan juta rupiah, para perajin itu juga harus mencari akses pasar sendiri.

“Saat ini untuk mencari bahan baku saja saya lakukan sendiri. Sebenarnya kalau bisa mandiri lebih baik. Tapi kami tidak punya modal untuk mandiri, karena alat untuk membuat pola saja harganya ratusan juta rupiah,” tutur Agung lagi

Source http://www.pikiran-rakyat.com http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2016/05/09/dusun-benowo-penghasil-bingkai-kacamata-kayu-368634
Comments
Loading...