Kerajinan Biting Bambu Di Ponorogo

0 255

Kerajinan Biting Bambu Di Ponorogo

Samudji, Seorang pengrajin sekaligus pengepul biting bambu Desa Sriti, Kecamatan SawooBambu dipotong kecil-kecil hingga tertata rapi dalam sebuah ikatan tali, orang sering menyebutnya Biting. Di Kecamatan Sawoo, hampir setiap rumah di Desa Temon, Sriti, Tempuran dan Tumpakpelem banyak warganya memanfaatkan waktunya untuk membuat biting. Rupanya pembuatan Biting ini dijadikan sebagai usaha sampingan mereka. 
Sepotong bambu bisa dijadikan buah karya. Tampaknya, tidak sulit membuatnya tapi siapa sangka, potongan bambu ini bernilai jual tinggi dan banyak orang yang membutuhkannya bahkan banyak yang memesanan secara kontinyu. Rupanya kreatif, terampil menjadi solusi alternatif penopang ekonomi mereka. Dibalik tuntutan ekonomi dengan harga yang terus membumbung tinggi bukan alasan untuk berhenti berkarya. 
Pembuatan Biting ini salah satunya dilakoni oleh Samudji bersama dengan istrinya Suprihatin. Samuji adalah salah satu diantara puluhan bahkan ratusan warga lainnya yang membuat biting. “Warga Desa Temon, Sriti, Tempuran, Tumpakpelem hampir setiap rumah membuat biting,”katanya.
Selain menjadi pengrajin Samudji juga menjadi pengepul dengan menampung hasil pembuatan biting dari warga setempat.“Saya sudah bertahun-tahun menggeluti usaha ini. Warga disini menjadikan usaha ini sebagai usaha sampingan, rata-rata mereka adalah petani,” terangnya sembari memperlihatkan usaha bitingnya.
Usaha pembuatan biting sudah dilakoninya selama bertahun-tahun. Menurutnya, satu buah bambu setelah di potong-potong bisa menjadi 15 kg-25 kg biting dan dalam sehari Samudji mampu membuat dan mengumpulkan hingga 1 kwintal bahkan 1 ton. “1 kwintal hingga 1 ton perharinya tapi juga tidak pasti karena prosesnya banyak,” urainya menjelaskan proses pembuatannya yang rumit. 
Melihat langsung pembuatan Biting, rupanya tidak sulit namun tetap saja perlu ketlatenan dan ada ukuran-ukuran tertentu yang harus sesuai. Pembuatan Biting bermula dari bambu (Pring Ori) yang dipotong-potong. Bambu dibilah menjadi beberapa bagian dan dikelupas kulit bagian luar dan bagian dalamnya, dikeringkan, dipotong sesuai dengan ukuran dan dihaluskanAda patokan ukuran panjangnya yaitu 22 cm, 28cm, 32cm dan 38cm,” lanjutnya menjelaskan.
Potongan bambu yang sudah menjadi biting dinilai harganya berdasarkan beratnya ditimbang. Dengan harga per kilogram senilai Rp. 22.000 – Rp. 27.000. “Harga perkilo kisaran 22 ribu dari pembuat dan dijual ke pengepul besar seharga 27ribu,”terangnya.
Samudji menjualnya ke pengepul besar lagi, Ia mengaku mengirimkannya ke Trenggalek. Biting yang sudah jadi ini sesampai di Trenggalek masih diolah lagi, ditaburi obat-obat yang bisa membuat biting itu bisa menyala tersulut api. “Saya mengirimkan biting-biting ini ke Trenggalek dan di Trenggalek masih diolah lagi ditaburi obat,” ungkapnya.
Seusai Biting dikirim ke Trenggalek, rupanya biting-biting itu masih dikirim lagi ke Bali, Lumajang dan Malang untuk dijadikan DUPA “Biting-biting itu nanti dijadikan DUPA, sebagai alat peribadatan bagi orang Hindu dan Bhuda. Dan tak heran dalam peringatan galungan, Samudji seringkali kekurangan stok” terangnya mengakhiri perbincangan.
Source http://lingkarkotareyog.blogspot.co.id http://lingkarkotareyog.blogspot.co.id/2014/12/biting-bambu-penopang-hidup-warga-desa.html
Comments
Loading...