Kerajinan Boboko Di Bandung

0 374

Kerajinan Boboko Di Bandung

Meskipun saat ini masyarakat lebih banyak menggunakan alat memasak nasi elektrik seperti magic jar atau rice cooker, ternyata eksistensi bakul bambu alias boboko tak pernah surut oleh zaman. Para perajin bakul dan perkakas lainnya yang terbuat dari bambu di Kampung/Desa Cikitu Kecamatan Pacet Kabupaten Bandung tetap setia dengan pekerjaannya.

Tatang Wahyudin, salah seorang perajin perkakas bambu mengatakan, hingga saat ini ratusan keluarga di tempatnya masih setia dengan pekerjaannya. Sehari-hari mereka membuat boboko (bakul), ayakan (saringan), nyiru (nampan), tolombong (bakul besar), hihid (kipas), aseupan (tempat memasak nasi), dan perkakas lainnya yang terbuat dari bambu.

“Memang warga Cikitu sejak puluhan tahun lalu menekuni pekerjaan ini. Begitu juga saya yang bisa dibilang angkatan muda masih setia dengan pekerjaan ini. Alhamdulillah, meskipun sekarang ini sudah banyak penanak nasi elektrik, rasanya kami tidak pernah kekurangan pesanan. Bahkan tak jarang kami kerepotan memenuhi pesanan,” kata Tatang.

Dikatakan Tatang, jumlah perajin boboko di kampungnya lebih dari 200 Kepala Keluarga (KK). Itu belum termasuk para perajin lainnya yang ada di Desa Cikitu. Uniknya, pembuatan boboko ini tidak dilakukan dari awal hingga akhir atau finishing oleh satu keluarga. Biasanya pembuatannya dilakukan setiap bagian oleh masing-masing keluarga.

Rata-rata, kata Tatang, bakul dan produk anyaman lainnya dari Kampung Cikitu biasa diambil oleh para pengepul yang datang ke kampung itu. Dari sana, produk anyaman itu tersebar hampir di seluruh daerah di Jawa Barat. Bahkan, para pengepul ini juga rutin memasok pasar di Bengkulu dan beberapa daerah lainnya di Pulau Sumatra.

“Produksi kami per bulan sekitar 500-an kodi. Tapi sebenarnya produksi ini bisa lebih banyak lagi kalau kami mengerjakannya intensif, kalau selama ini kan kami melakukan pekerjaan ini selepas beraktivitas lain, seperti pulang dari kebun dan sawah saja. Tapi Alhamdulillah cukup membantu kesejahteraan kami, banyak keluarga yang sampai bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi,” jelas Tatang.

Menurut dia, masyarakat masih setia menggunakan perangkat berasal dari bambu karena memiliki beberapa keunggulan. Dia mencontohkan, nasi yang disimpan di bakul biasanya tidak mudah basi dan berbau. Bahkan bisa tahan beberapa hari tanpa bantuan alat pemanas.

Meskipun telah puluhan tahun lebih para perajin bambu di Desa Cikitu memanfaatkan bambu, mereka tetap tidak melupakan kelestarian alam. Justru mereka turut menjaga dan melestarikan alam di sekitarnya. Pohon bambu jenis awi tali yang biasa dipakai, secara rutin dipelihara dan dilestarikan. Bahkan, sejak lama para perajin di Desa Cikitu tak menggunakan kayu sebagai bagian dari produknya.

Warga menyadari, jika terus menggunakan kayu, tentu saja akan menghabiskan pepohonan yang ada di hutan sekitar mereka. Sejauh ini, jelas Tatang, tak ada kendala yang mereka alami dalam memproduksi dan menjual berbagai produk anyaman bambu ini. Namun dia berharap ada ruang pamer (showroom) untuk memajang produk anyaman bambu hasil kreativitas warga itu. Menurutnya, hal ini akan mempermudah calon pembeli memilih dan menemukan perkakas yang dibutuhkannya.

“Memang sebaiknya ada showroom yang memadai. Dengan begitu, kami bisa memajang berbagai hasil kerajinan bambu hasil produksi warga Desa Cikitu. Selain itu, kami juga membutuhkan media promosi dan bantuan pemasaran, agar semakin banyak orang tahu produk anyaman bambu dari Kabupaten Bandung,” ujar Tatang.

Source http://www.inilahkoran.com http://www.inilahkoran.com/berita/bandung/56110/perajin-boboko-di-kampung-cikitu-tetap-eksis-di-tengah-modernisasi
Comments
Loading...