Kerajinan Bokor Dari Alumunium Dan Kayu Di Buleleng

0 153

Kerajinan Bokor Dari Alumunium Dan Kayu Di Buleleng

Penduduk di Desa Pakraman Menyali, Kecamatan Sawan, Buleleng, merupakan masyarakat yang hidup secara mandiri.  Hal ini dapat dilihat dari sebagian masyarakatnya yang mengantungkan hidup dari usaha kreatif utamanya kerajinan aluminum. Salah satu perajin yang sudah lama menekuni usaha kerajinan aluminium adalah Ketut Sukrawenten.

Menurutnya, menjadi seorang perajin merupakan pekerjaan yang didapat secara turun menurun. Sejak kecil ia lahir dari keluarga yang telah menggeluti usaha kerajinan bokor aluminium sehingga ia pun secara otodidak memiliki bakat tersebut. Untuk memutus rantai kemiskinan dalam keluarga ia memutuskan untuk merantau ke luar desa namun akhirnya kembali karena lebih senang menjadi seorang perajin.

Bokor aluminium desa Menyali memang sudah sangat dikenal baik di Buleleng hingga di seluruh Bali. Sukra tidak perlu jauh-jauh memasarkan barang kerajinannya sebab di Bali pada khususnya sangat memerlukan bokor sebagai sarana upakara. Akan tetapi seiring perkembangan waktu, perajin bokor aluminium yang makin bertambah dan penggunaan bokor yang tidak sekali pakai sehingga menurunkan jumlah produksinya. “Kalau di pasar lokal penggunaan bokor hanya pada saat ada upacara keagamaan saja,” tuturnya.

Melihat situasi inilah, sebagai pelaku ekonomi kreatif ia melakukan inovasi terhadap hasil produksi kerajinannya. Jika dulu Sukra banjir order hanya saat menjelang hari raya namun tidak dengan sekarang. Saat ini ia selalu mendapat pesanan tetap dari artshop-artshop di luar Buleleng utamanya kabupaten Gianyar. Dengan memadukan aluminium dan kayu, Sukra dapat membuat kerajinan inovatif dengan menambah nilai guna produk yang dihasilkan. “Pertamanya kami mencoba membuat hiasan dinding dengan mengombinasikan aluminium dan kayu sehingga tercipta hiasan yang begitu indah,” imbuhnya.

Setelah membuat hiasan dinding, dirinya makin giat mencoba menghasilkan produk yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki nilai jual tinggi. “Kami dapat pesanan membuat box yang biasanya terbuat dari rotan sehingga perlu usaha untuk mendapatkan hasil yang memang menyerupai pesanan,” paparnya. Sampai saat ini barang-barang produksinya diterima dengan baik dan telah mampu masuk pasar ekspor. Untuk memenuhi pasar lokal, pria kelahiran 1 Oktober tersebut membuat produk berbahan dasar aluminium seperti pot, gantungan pintu, kotak tisu, kotak buku, dan masih banyak lagi.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam produksi adalah mahalnya bahan baku aluminium. “Kami beli dekat sini saja agar bisa beli sedikit, kalau beli di Jawa sekali pembelian bisa mencapai puluhan juta rupiah,” jelasnya. Kendala lain dalam produksi adalah penentuan  motif produk.

Biasanya dalam produksi ia menggunakan tiga macam motif yaitu motif Bali, Klasik, dan Wajik, namun ketika pembeli membawa motif sendiri cenderung produk yang akan dihasilkan akan gagal. “Kami menggunakan teknik pukul sedangkan motif yang diprint out akan berbeda hasilnya ketika diaplikasikan dengan teknik yang kami gunakan,” jelasnya. Kendala yang paling utama adalah mudah ditirunya produk yang dihasilkan oleh perajin lain. “Semua sudah tahu tekniknya jadi tidak begitu sulit untuk meniru yang lain,” pungkasnya.-

Source https://www.cybertokoh.com https://www.cybertokoh.com/news/2016/10/25/2553/padukan-aluminium-dan-kayu-bokor-inovatif.html
Comments
Loading...