Kerajinan Bola Di Cicantayan

0 235

Kerajinan Bola Di Cicantayan

Merosotnya nilai mata uang rupiah akibat dolar yang terus melambung membawa dampak sulitnya usaha kerajinan pembuat bola di Kampung/Desa Lembursawah Kecamatan Cicantayan, mendapatkan bahan baku.

Selama dolar naik, bahan baku seperti lapisan bola sangat lama diterima pengrajin. Sedangkan untuk zat kimia dalam sablon tak tentu harganya. Pemicunya, bahan baku tersebut berasal dari luar negeri.

“Kami mengakui bahan baku bola seperti PVC dan Starwing sangat lambat pasokannya. Bahan pelapis ini harganya Rp 95 ribu per meter dan dibeli dari Jakarta. Kami rasa harganya normal namun pasokanya ini yang menjadi masalah,” ungkap Usman salah seorang pengrajin, Wins bola.

Dampak lain yakni harga bahan baku sablon yang tak stabil. Seperti minyak pelarut tinta atau M3, kini berkisar Rp 40 ribu untuk satu wadah. Padahal awalnya hanya Rp 35 ribu saja.

“Dengan keterlambatan bahan serta harga yang tak stabil, kami pengrajin merasa kesulitan. Sebab order kami tergantung kepada pesanan saja. Saat ini harga satu bola berkisar Rp 45 – Rp 50 ribu, keuntungan kami harus dibagi ongkos produksi serta upah buruh,” jelasnya.

Pengrajin lainnya, Cepi Mulyana mengungkapkan, usaha pembuatan bola di Desa Lembursawah dilakukan secara manual, dari pemotongan bahan kulit, pengeleman sablon hingga menjahit. Mereka para pengrajin bola rata-rata anak muda sehingga menggantungkan pendapatan dari usaha ini. Jika kondisi ekonominya seperti ini maka tersendat juga pendapatan mereka.

“Kami berharap usaha kami tak terganggu kondisi dolar sebab sifatnya usaha kecil. Pemerintah dapat melihat usaha kami sebagai sala satu yang terkena dampak,” ujarnya.

Source https://jabar.pojoksatu.id https://jabar.pojoksatu.id/sukabumi/2015/09/01/pengrajin-bola-kena-dampak-dolar/
Comments
Loading...