Kerajinan Bola Di Majalengka

0 243

Kerajinan Bola Di Majalengka

Jika kita ditanya, di mana kiblat sepak bola dunia? Sudah tentu kita semua sepakat menjawab daratan Eropa. Pasalnya, hingga detik ini hampir seluruh kompetisi persepakbolaan bergengsi di muka bumi ini dimenangkan oleh tim-tim dari negara-negara barat. Tidak mengenal apakah itu skala klub atau tim nasional.

Saking piawainya mereka sehingga bangsa kita lebih melirik pertandingan-pertandingan sepak bola kawasan nun jauh di sana daripada di negeri sendiri. Bangsa Indonesia rela memelototi Christiano Ronaldo dan kawan-kawannya di televisi meskipun disiarkan tengah malam yang dingin. Bahkan, tak dimungkiri, ada yang menjadi “pemuja” atau penonton loyal di kala klub kesayangannya bertanding.

Tetapi, ada satu hal yang nyaris dilupakan oleh bangsa kita mengenai sepak bola. Tahukah Anda, dari mana bola yang digunakan di Piala Dunia atau piala bergengsi lainnya di Eropa berasal? Usut punya usut ternyata bola-bola itu dari Indonesia.

Banyak di antara Anda pasti tak percaya, namun itu faktanya. Bola tersebut pernah digunakan di ajang Piala Dunia 1998 Prancis dan direncanakan akan kembali digunakan di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Tidak hanya itu, Bola Majalengka sudah ditumpahkan di pasar Korea, Singapura, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Timur Tengah, dan sebagian besar Eropa.

Bola itu diberi nama Bola Majalengka karena memang diproduksi oleh pengrajin asal Majalengka, Jawa Barat. Mohammad Irwan Suryanto-lah orang yang berada di balik keberhasilan ini. Ia memulai menjadi pengrajin bola sepak setelah mendapat saran dari kenalannya yang importir asal Korea pada tahun 1980-an.

“Kalau you mau membantu masyarakat Majalengka, silakan you bikin pabrik bola,” cerita Irwan menirukan kalimat koleganya itu. Maklum, sebelumnya Irwan aktif menjadi pelatih tenis lapangan di daerahnya dan sering bertanding ke kota-kota lain. Di situlah ia bertemu orang Korea yang menawarinya bisnis bola itu.

Tanpa pikir panjang, Irwan langsung menyetujui tawaran Korea. Dalam benaknya, tawaran tersebut adalah bisnis yang menggiurkan. Benar, Irwan menjadi eksportir dengan negara tujuan pertama kali adalah Korea. Untungnya tak besar, hanya Rp 100 per bola dari harga pesanan US$ 5 per bola saat itu.

Bukannya berkembang, ternyata dalam dua tahun Irwan justru menghabiskan modal usahanya hingga Rp 200 juta tanpa kembali. Tentu gundah-gulana. Lalu, putuslah hubungan ekspor-impor itu dan Irwan memutuskan menggunakan uang sisa modalnya untuk pergi naik haji. Irwan menyerahkan persoalannya pada Tuhan.

Usai pergi haji, Irwan melihat masih ada sisa bahan yang masih bisa dimanfaatkan. Karyawannya menyarankan untuk dilanjutkan dan dijual di pasar sekitarnya. “Tetapi, Tuhan menunjukkan jalan secara tidak terang-terangan. Apa yang saya anggap sempit, ternyata setelah saya jalani justru menunjukkan perkembangan yang berarti,” tuturnya.

Dari sisa-sisa ekspor itu, jadilah bola sepak yang baik. Irwan secara legowomemasarkan sendiri, berkeliling kota dengan sepeda motornya. Dari situlah penjualannya terus naik secara perlahan, hingga mendapat kesempatan mengikuti pelatihan ekspor-impor dan menang. Karena itu, Irwan dibiayai pemerintah untuk mengikuti pameran di Singapura.

Lagi-lagi pria kelahiran Majalengka, 1 Desember 1950 ini dipertemukan dengan importir dari Korea. Importir itu memesan bola buatan Irwan. Sejak deal pertama di Singapura itu, ia mengaku menjadi lebih percaya diri. Puncaknya terjadi pada tahun 1998.

Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi, nilai kurs dolar dibanding rupiah naik, itu justru mendatangkan berkah bagi Irwan. Bola yang tadinya diproduksi dengan biaya sekitar US$ 3 (Rp 7.500) per unit ketika itu, saat krisis dijual di dalam negeri dengan harga Rp 16.000-an dan laku keras. Itulah “bencana” yang malah mampu mengembalikan kerugian yang sebelumnya diderita Irwan.

Source https://marketing.co.id https://marketing.co.id/menendang-bola-hingga-eropa/
Comments
Loading...