Kerajinan Boneka Bambu Di Bantul

0 145

Kerajinan Boneka Bambu Di Bantul

Limbah bambu biasanya dibiarkan tergeletak tak terpakai, hanya dibuang dan berakhir ditempat pembakaran menjadi abu. Namun berbeda dengan sekelompok pemuda di Sanggar Sinongko, Dusun Tangkil Rt 3, Desa Muntuk, Dlingo Bantul.

Ditangan kreatif anak muda, limbah-limbah bambu yang awalnya tak terpakai itu bisa disulap menjadi aneka kerajinan boneka bambu yang menarik. Dari kerajinan ini pula limbah bambu bisa memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Ditemui Tribun Jogja di rumah produksi yang dinamakan Sinongko, puluhan pemuda itu terlihat tengah asyik berkreasi dari olahan limbah bambu menjadi aneka bentuk kerajinan.

Terlihat paling banyak dibuat di rumah produksi Sinongko ini sebuah kerajinan yang dinamakan boneka bambu. Bambu-bambu yang sudah tak terpakai itu dipotong sedemikian rupa dan dikreasi membentuk pola anak anjing dan kuda.

Bukan hanya boneka bambu, ditempat produksi ini pula dibentuk aneka kerajinan lain seperti cangkir, gantungan kunci, gelang tangan hingga tempat pensil. Semua kerajinan itu menggunakan bahan dasar dari Bambu.

Ketua pemuda, Ivan Gunawan, mengatakan, ide awal pembuatan aneka kerajinan dari Bambu berawal dari keprihatinan dan coba-coba, karena melihat limbah bambu cukup melimpah di desa Muntuk, namun dibiarkan tergeletak tak terpakai.

Tujuan dari pemanfaatan limbah bambu sebagai bahan kerajinan, tidak lain karena ingin meningkatkan harga jual limbah bambu yang biasanya dibakar atau dibuang menjadi kreasi yang unik.

Selain untuk pemanfaatan limbah bambu, adanya pembuatan kerajinan boneka bambu juga sebagai wadah bagi kreatifitas anak-anak muda.

Sehingga bakat dan energi anak-anak muda desa Muntuk bisa tersalurkan menjadi kegiatan yang positif dan memiliki nilai guna.

“Ditempat produksi ini sebagai wadah untuk menampung dan memberdayakan kreatifitas anak-anak muda. Jadi, kami sibuk berkreasi, sudah tidak ada waktu lagi untuk hal-hal yang negatif,” ungkapnya.

Melihat secara langsung proses pembuatan boneka bambu ini bisa dikatakan gampang-gampang susah.

Awal mulanya bambu-bambu itu dipotong dengan ukuran tertentu. Ada yang masih manual namun sudah ada yang menggunakan mesin potong. Potongan itu kemudian dicuci sampai bersih.

Setelah tercuci bersih, potongan bambu kemudian dibelah menjadi dua bagian. Bambu yang sudah terbelah diberi dudukan, sehingga bisa membentuk pola kaki. Bambu-bambu itu direkatkan menggunakan lem, digabungkan dari beberapa bagian. Termasuk diberi aksesori pelengkap seperti mata, telinga dan ekor.

Setelah semua bagian digabung. Untuk proses akhir, boneka bambu ini dipernis atau diperhalus sehingga serat bambu tidak kasar dan warnanya tampak mengkilat. Satu kreasi boneka bambu, dari mulai bahan limbah dipotong hingga hasil akhir diperhalus, dikerjakan selama 10 sampai 15 menit.

Kerajinan boneka bambu ini terbilang baru. Pertama kali mulai diproduksi pada bulan Maret 2018.

Pangsa pasar dari hasil kreasi anak-anak muda ini masih dijual belikan secara lokal di tempat sentra oleh-oleh khas desa Muntuk. Untuk harganya sendiri terbilang murah. Mengingat sebagian prosesnya masih dilakukan secara manual. Handmade.

Satu cangkir kecil terbuat dari bahan Bambu dijual dengan harga Rp 15 ribu/pcs. Boneka bambu Rp 15 ribu/pcs. Sementara, gelang dan gantungan kunci dari bambu di jual dengan harga Rp 3 ribu/pcs. Rumah produksi boneka bambu ini sebuah tempat kecil. Hanya berukuran sekira 15 x 7 meter persegi. Di tempat ini semua pemuda bekerja sesuai kreasinya masing-masing.

Ada yang memotong bambu secara manual, dan ada juga yang memotong halus menggunakan mesin potong. Sebagian lagi memgamplas (memeperhalus) dan ada juga yang menempel setiap bagian-bagian tubuh boneka menggunakan lem.

Pemuda lain, Leo galih satriawan, mengatakan, adanya rumah produksi boneka bambu bisa membuat aktifitas baru bagi anak-anak muda. Menghindari hal-hal negatif dan minimal tidak membebani keuangan orang tua.

Source http://berita.baca.co.id http://berita.baca.co.id/21992864?origin=relative&pageId=08d78
Comments
Loading...